AS siapkan sanksi untuk China terkait beli minyak Iran, Memanas pasokan dunia!

Jakarta, Maret.id — Pemerintah Amerika Serikat disebut masih berharap untuk tidak menjatuhkan sanksi sekunder kepada China terkait pembelian minyak mentah dari Iran, namun opsi itu tetap disimpan sebagai alat tekanan jika kondisi berubah. Langkah ini mencerminkan upaya Washington menyeimbangkan tekanan terhadap Teheran tanpa merusak hubungan ekonomi yang saling bergantung dengan Beijing.
Opsi Sanksi Sekunder Tetap Dibuka
Mantan pejabat keamanan nasional AS, Mark Pfeifle, menyatakan bahwa pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemungkinan akan mempertahankan opsi sanksi sekunder tersebut. Pfeifle mengatakan langkah itu dipertahankan sebagai ancaman yang dapat digunakan apabila perkembangan situasi di Iran mengharuskan respons lebih tegas.
Pfeifle menilai penerapan sanksi secara luas terhadap China berpotensi memicu persoalan diplomatik dan ekonomi yang serius. Oleh karena itu, Washington dinilai cenderung menimbang dampak sebelum menempuh tindakan yang bisa memperburuk hubungan bilateral.
Dinamika Ekonomi dan Energi AS-China
Menurut pengamatan yang disampaikan, kilang-kilang di China kerap membeli minyak mentah Iran dengan harga lebih murah sehingga memberi keuntungan kompetitif bagi perusahaan-perusahaan China. Kondisi ini mendorong AS untuk mendorong Beijing mencari sumber minyak alternatif sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap minyak yang berada di bawah sanksi.
Sumber-sumber yang mengamati kebijakan mengatakan Beijing menjalankan strategi jangka panjang yang sering kali berbeda kepentingannya dengan Washington. Dalam konteks ini, ada kekhawatiran bahwa China tidak menunjukkan itikad bantuan dalam menekan kebijakan Iran yang dianggap berbahaya oleh AS.
Pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump
Ketegangan terkait kebijakan Iran muncul menjelang kunjungan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan ke Washington pada 24 September untuk pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Trump. Agenda pertemuan ini diperkirakan akan meliputi pembahasan hubungan ekonomi, masalah energi, serta dinamika konflik di Timur Tengah.
Para analis menilai pertemuan itu berpotensi menjadi momen penting untuk meredam ketegangan sekaligus mencari titik temu mengenai kebijakan bersama terhadap Iran. Namun, opsi sanksi dan persaingan strategis menjadi isu sensitif yang dapat mempengaruhi hasil dialog bilateral.
Peringatan Israel terhadap Iran
Di tengah ketegangan tersebut, Menteri Energi Israel Eli Cohen memperingatkan bahwa Israel siap melancarkan serangan kembali terhadap Iran jika Teheran berusaha menghidupkan kembali program nuklir atau rudalnya. Cohen menegaskan bahwa bahkan bila ada kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat, Israel tidak akan tinggal diam apabila ancaman nuklir atau rudal muncul kembali.
Cohen juga mengklaim bahwa serangan gabungan yang melibatkan AS dan Israel sebelumnya telah menghambat program nuklir Iran selama beberapa tahun. Pernyataan ini menambah lapisan ketegangan regional yang dapat mempengaruhi pertimbangan kebijakan di Washington dan Beijing.
Hubungan antara upaya diplomatik, tekanan ekonomi, dan ancaman militer saat ini menjadi ujian kebijakan luar negeri bagi semua pihak terkait. Bagaimana Washington dan Beijing bertindak dalam beberapa pekan mendatang diprediksi akan menentukan arah hubungan bilateral dan stabilitas kawasan di tengah ketidakpastian mengenai masa depan program Iran.





