Lebanon Tegaskan Tak Lepaskan Selatan, Memanas dan Memicu Krisis Energi Regional!

Jakarta, Maret.id — Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri menegaskan bahwa wilayah selatan Lebanon tidak dapat dijadikan zona penyangga bagi Israel karena tanggung jawab pertahanan dan rekonstruksi ada di tangan pemerintah Beirut. Pernyataan itu disampaikan menjelang pembicaraan lanjutan mengenai implementasi kerangka kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat pada 26 Juni lalu.
Kedaulatan dan Pertahanan
Berri menegaskan selatan Lebanon merupakan bagian integral negara dan pertahanan wilayah tersebut harus berada di bawah kendali negara bersama penduduknya. Menurutnya, melepaskan hak untuk menuntut pertanggungjawaban Israel atas tindakan di wilayah itu sama dengan melepaskan kedaulatan Lebanon.
Rangka Kesepakatan 26 Juni
Kesepakatan yang dirundingkan pada 26 Juni bersama mediator AS menyerukan serangkaian langkah untuk meredakan ketegangan di perbatasan selatan. Rangka itu mencakup pemulihan kendali militer Lebanon atas wilayah selatan, pelucutan senjata kelompok bersenjata non-negara seperti Hizbullah, serta penarikan pasukan Israel dari zona percontohan yang telah disepakati.
Persyaratan Beirut dan Israel
Pemerintah Beirut menegaskan bahwa kemajuan lebih lanjut pada implementasi kesepakatan hanya mungkin jika serangan Israel dihentikan dan pasukan Israel menarik diri dari area yang disengketakan. Di sisi lain, Israel mengaitkan pelaksanaan langkah-langkah tersebut dengan pelucutan senjata Hizbullah dan jaminan keamanan yang dinilai memadai di garis perbatasan.
Tantangan Implementasi dan Verifikasi
Pelaksanaan pengembalian kendali wilayah kepada militer Lebanon dan pelucutan senjata kelompok bersenjata menghadirkan tantangan teknis dan politik yang signifikan. Pengawasan internasional diperkirakan akan dibutuhkan, termasuk peran pasukan penjaga perdamaian PBB yang selama ini beroperasi di kawasan perbatasan.
Dampak pada Masyarakat dan Rekonstruksi
Berri juga menekankan tanggung jawab negara dalam proses rekonstruksi dan pemulihan kehidupan warga yang terdampak konflik di selatan. Kondisi keamanan yang stabil serta akses kemanusiaan dan dana rekonstruksi menjadi prasyarat penting bagi pemulihan sosial-ekonomi di wilayah tersebut.
Arah Diplomasi dan Prospek Perdamaian
Para pengamat menilai bahwa keberlanjutan proses diplomasi bergantung pada kemauan politik kedua belah pihak untuk menepati komitmen dan menghentikan aksi militer. Jika situasi di lapangan tidak terkendali, risiko eskalasi akan tetap mengancam stabilitas kawasan dan menghambat upaya rekonsiliasi jangka panjang.
Pernyataan Berri mencerminkan posisi keras Beirut dalam mempertahankan kedaulatan dan hak negara atas wilayahnya. Perundingan lanjutan antara Lebanon, Israel, dan mediator internasional diperkirakan akan menjadi kunci menentukan apakah kerangka kesepakatan 26 Juni dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata di lapangan.





