PBB Pangkas Bantuan Pangan Tepi Barat Separuh, Waspada Krisis Dana Picu Kelaparan!

Jakarta, Maret.id — Program Pangan Dunia (WFP) mengumumkan pemangkasan signifikan terhadap cakupan bantuan kemanusiaan di Tepi Barat akibat krisis pendanaan yang berkepanjangan.
Skala Pemangkasan di Tepi Barat
WFP menyatakan jumlah penerima manfaat di Tepi Barat akan turun dari sekitar 400.000 orang menjadi sekitar 200.000 orang. Pemotongan ini akan mulai diberlakukan pada September 2026 dan mencakup berbagai jenis bantuan seperti uang tunai, voucher, pasokan makanan, program mata pencaharian, dan layanan gizi.
Pengurangan tersebut diputuskan karena dana yang masuk tidak mencukupi untuk mempertahankan operasi penuh. Dampak langsungnya adalah berkurangnya akses keluarga rentan terhadap bantuan pokok yang selama ini menopang ketahanan pangan lokal.
Dampak di Jalur Gaza
WFP juga melaporkan dampak pada operasional di Jalur Gaza, di mana lembaga itu saat ini mendukung sekitar 1,5 juta orang, termasuk sekitar satu juta yang menerima bantuan pangan setiap bulan. Organisasi ini mulai memangkas bantuan tunai bagi sekitar 75.000 keluarga di Gaza sebagai bagian dari penyesuaian operasional.
Sebelumnya, pada Juli 2026 WFP memangkas nilai bantuan tunai bagi sekitar 375.000 orang di wilayah Palestina sebesar 40 persen. Pemangkasan berulang ini memperbesar risiko kekurangan gizi dan tekanan ekonomi bagi rumah tangga yang bergantung pada bantuan luar.
Prioritas Penerima dan Analisis Kerawanan
Direktur Negara WFP untuk Palestina, Shaun Hughes, menyatakan lembaganya terpaksa memprioritaskan kelompok yang paling rentan akibat keterbatasan dana. Hughes menegaskan bahwa meskipun kebutuhan sangat luas, bantuan akan difokuskan pada keluarga yang paling terancam kelaparan dan malnutrisi.
WFP memperkirakan sekitar 900.000 orang di Tepi Barat mengalami kerawanan pangan yang signifikan. Sementara itu, Integrated Food Security Phase Classification (IPC) melaporkan kondisi pangan di Gaza telah mengalami perbaikan sejak krisis kelaparan beberapa wilayah tahun lalu, tetapi tingkat pangan masih dikategorikan pada level krisis.
Kebutuhan Dana dan Seruan Internasional
WFP menyatakan membutuhkan tambahan dana sebesar 386 juta dolar AS untuk enam bulan ke depan guna mempertahankan bantuan kepada sekitar dua juta orang yang rentan di Gaza dan Tepi Barat. Lembaga itu mendesak komunitas internasional untuk segera meningkatkan dukungan finansial agar layanan dasar tidak semakin tergerus.
Krisis pendanaan WFP terjadi di tengah tantangan yang lebih luas bagi PBB dalam memenuhi kebutuhan kemanusiaan global untuk 2026, ketika permohonan bantuan multinasional dilaporkan hanya tercapai sekitar setengah dari jumlah yang dibutuhkan. Keterbatasan ini berimplikasi pada kemampuan seluruh rantai bantuan kemanusiaan untuk merespons krisis yang semakin kompleks.
Perubahan Pola Pendanaan Global
Data PBB menunjukkan Amerika Serikat tetap menjadi penyandang dana terbesar pada 2025, namun proporsi kontribusinya menyusut dibanding sebelumnya. Pangsa kontribusi AS terhadap total pendanaan bantuan kemanusiaan global turun menjadi sekitar 15,6 persen setelah adanya pemangkasan anggaran bantuan luar negeri oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Penurunan proporsi donor utama ini memperlemah kemampuan respons kolektif dan memperbesar tekanan pada negara donor lain serta organisasi kemanusiaan untuk menutup celah pendanaan. Para pakar kemanusiaan memperingatkan bahwa ketidakpastian aliran dana akan semakin mempersulit perencanaan jangka menengah dan jangka panjang di wilayah yang membutuhkan.
WFP menekankan bahwa tanpa tambahan dana segera, program yang menyelamatkan nyawa dan mengurangi kerawanan akan terus dipangkas, meninggalkan puluhan sampai ratusan ribu warga Palestina dalam kondisi rentan. Organisasi ini menyerukan langkah nyata dari negara-negara donor dan lembaga internasional untuk mencegah krisis kemanusiaan yang lebih luas.





