Eks Pegawai Meta Sebut 18 Miliar Dolar Tak Cukup Memanas Regulasi Global!

Jakarta, Maret.id — Meta setuju membayar 17 miliar dolar AS untuk menyelesaikan gugatan yang diajukan oleh 29 negara bagian di Amerika Serikat terkait klaim bahwa platform Facebook dan Instagram dirancang untuk membuat anak-anak dan remaja kecanduan, namun sejumlah pihak menilai langkah tersebut masih belum cukup.
Rincian Perjanjian
Kesepakatan yang diumumkan dalam persidangan federal menetapkan sejumlah pembatasan baru bagi pengguna di bawah 18 tahun, termasuk batas penggunaan harian dua jam secara default.
Platform juga diwajibkan memblokir sebagian besar akses antara tengah malam hingga pukul 06.00 kecuali orang tua secara eksplisit mencabut pembatasan tersebut.
Notifikasi akan dibisukan selama jam sekolah untuk mengurangi gangguan belajar dan jumlah tanda suka pada unggahan akan disembunyikan untuk menekan dorongan komparatif.
Pengguna muda diberi opsi untuk memilih umpan yang tidak dipersonalisasi, sementara filter yang menyimulasikan operasi kosmetik atau riasan ekstrem akan dilarang.
Sebuah auditor independen akan ditunjuk untuk memantau kepatuhan perusahaan terhadap ketentuan-ketentuan baru ini.
Mekanisme pelaporan dan verifikasi usia pengguna juga termasuk dalam ketentuan yang harus dipenuhi oleh Meta.
Saksi Kunci dan Kritik
Arturo Bejar, mantan anggota tim keamanan Facebook yang menjadi saksi kunci kasus ini, menyatakan bahwa kompensasi finansial dan perubahan yang disepakati tidak akan menggantikan nyawa yang telah hilang.
Bejar menilai perusahaan masih memiliki keleluasaan untuk mendefinisikan sendiri apa yang dianggap berbahaya dan dapat mengadopsi solusi yang sejalan dengan praktik mereka saat ini.
Menurut Bejar, pendekatan yang diambil dalam perjanjian memungkinkan perusahaan menafsirkan batasan secara internal sehingga penerapan aturan bisa minim perubahan substantif.
Kritik lain datang dari para orang tua yang merasa langkah tersebut masih belum memadai untuk mencegah dampak psikologis dan sosial pada anak-anak.
Reaksi Pemerintah dan Perusahaan
Jaksa Agung California Rob Bonta menyebut perjanjian itu memberikan perlindungan penting bagi anak-anak dan remaja, tetapi menekankan bahwa upaya lanjutan tetap diperlukan.
Pernyataan tersebut mencerminkan dorongan penegak hukum untuk memastikan perusahaan teknologi bertanggung jawab atas desain produk yang dinilai berisiko.
Meta, melalui juru bicara resminya, menyatakan bahwa kesepakatan merupakan hasil dari diskusi panjang dengan jaksa agung negara bagian dan kembali membantah melakukan kesalahan.
Perusahaan menegaskan telah menerapkan sejumlah langkah untuk melindungi pengguna muda dan menolak anggapan bahwa platform sengaja dibuat untuk menciptakan kecanduan.
Dampak Hukum dan Tantangan Lanjutan
Dengan adanya kesepakatan, tidak ada juri yang memutuskan tuduhan dan saksi utama seperti CEO Meta tidak lagi diharuskan memberikan kesaksian di persidangan tersebut.
Namun, perusahaan masih menghadapi ribuan gugatan terpisah dari pengguna muda yang mengklaim mengalami kerugian akibat penggunaan platform.
Komisi di Uni Eropa sebelumnya menemukan bahwa desain pada beberapa produk perusahaan melanggar aturan layanan digital dengan indikasi praktik yang mendorong keterikatan berlebihan pengguna.
Meta kini tengah meninjau berkas-berkas terkait di wilayah tersebut dan menyusun respons hukum sebagai bagian dari upaya menghadapi regulasi internasional.
Kesepakatan ini menandai momen penting dalam perdebatan global tentang tanggung jawab perusahaan teknologi terhadap keselamatan anak dan remaja.
Meski demikian, banyak pihak berharap pengawasan yang lebih ketat dan kebijakan yang lebih tegas agar perubahan pada platform benar-benar mengurangi dampak negatif pada generasi muda.





