Netanyahu Sebut Rezim Iran Melemah, Tegaskan Penggulingan Teheran Dekat, Memanas Pasar Minyak!

Jakarta, Maret.id — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa penggulingan pemerintahan Iran kini menjadi target utama kebijakan Teheran menurut pandangannya, dan upaya tersebut sudah berada dalam jangkauan. Pernyataan itu disampaikan saat ia berpidato kepada staf umum militer Israel dalam perayaan Tahun Baru Yahudi di Tel Aviv pada Kamis (3/9/2026).
Pernyataan langsung dari pidato
Netanyahu menyatakan keyakinannya bahwa Israel memiliki kemampuan untuk “menghilangkan ancaman ini sekali dan untuk selamanya” dengan tujuan akhir menggulingkan rezim di Iran. Ia menegaskan misi tersebut sebagai prioritas utama yang menurutnya tidak lagi mustahil dan kini mendekati realisasi.
Analisis posisi kepemimpinan Iran
Menurut Netanyahu, kepemimpinan Iran berada dalam posisi paling rentan sepanjang sejarahnya dan menghadapi tekanan yang kian berat untuk mempertahankan kekuasaan. Ia juga memberi peringatan keras kepada lawan-lawan politik dan militer Israel dengan pesan singkat yang lugas, “Jangan macam-macam dengan kami.”
Eskalasi militer di kawasan
Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan udara gabungan Israel dan Amerika Serikat menargetkan Teheran dan sejumlah kota lain di Iran pada 28 Februari lalu. Iran membalas dengan melancarkan gelombang serangan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah pangkalan serta aset militer Israel dan AS di wilayah tersebut, sembari memperketat pengawasan dan langkah-langkah blokade di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Tekanan ekonomi dan respons internasional
Selain tindakan militer, tekanan terhadap Iran diperkuat melalui sanksi ekonomi dari Washington yang dimaksudkan untuk mempersempit ruang gerak Teheran secara global. Pejabat keuangan AS menyebut langkah-langkah yang diambil sebagai bagian dari paket sanksi besar yang digambarkan sebagai upaya ekonomi signifikan untuk mengisolasi Iran.
Ketegangan yang terus meningkat ini memicu kekhawatiran tentang potensi eskalasi lebih luas yang dapat menyeret negara-negara lain ke dalam konfrontasi. Para pengamat menilai situasi ini menuntut pengawasan internasional yang intensif karena implikasi keamanan maritim, pasokan energi global, dan stabilitas politik di Timur Tengah.
Netanyahu menutup pidatonya dengan menegaskan bahwa misi yang disebutnya sangat penting dan dalam cakupan kemampuan Israel, namun ia juga menegaskan kesiapan negara itu menghadapi berbagai skenario. Situasi tetap dinamis dan berisiko tinggi, sehingga perkembangan selanjutnya akan menjadi perhatian utama komunitas internasional dan pengambil kebijakan regional.





