Iran Minta Korsel Tak Campur Selat Hormuz, Memanas dan Mengancam Pasokan Minyak!

Jakarta, Maret.id — Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, memperingatkan Korea Selatan agar tidak terlibat secara militer dalam operasi yang dilancarkan oleh negara-negara sekutunya di Selat Hormuz.
Baghaei menyampaikan peringatan itu melalui unggahan di platform X sebagai respons terhadap pernyataan Seoul beberapa hari sebelumnya yang menyatakan sedang meninjau beragam opsi, termasuk kemungkinan langkah militer untuk mendukung apa yang disebutnya sebagai “kebebasan navigasi” di perairan strategis tersebut.
Respon Iran terhadap rencana Seoul
Menurut Baghaei, hubungan antara Iran dan Korea Selatan telah terjalin lebih dari enam dekade dan dibangun atas dasar saling menghormati, sehingga keterlibatan militer pihak ketiga berisiko merusak hubungan bilateral yang telah mapan.
Ia menegaskan bahwa Iran memandang persahabatan dengan Korea Selatan sebagai hal penting dan berharap negara lain tidak mengambil langkah yang dapat memperburuk ketegangan di kawasan.
Peringatan konsekuensi bagi pihak yang terlibat
Juru bicara itu menyatakan bahwa tindakan militer apapun yang mempertahankan kehadiran di Teluk Persia atau berpartisipasi dalam operasi-operasi di Selat Hormuz akan dipandang sebagai dukungan langsung terhadap para pelaku agresi dan berpotensi berujung pada konsekuensi serius.
Baghaei menegaskan bahwa saat ini, menurut pemerintah Iran, rakyat Iran sedang melakukan pembelaan diri terhadap apa yang disebut sebagai perilaku agresi militer Amerika Serikat.
Pengaruh terhadap arus pelayaran dan perdagangan
Dalam pernyataannya, Baghaei menyebutkan bahwa Selat Hormuz sejatinya terbuka untuk lalu lintas kapal hingga 28 Februari lalu, dan kondisi berubah tajam setelah serangan yang menurutnya dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap fasilitas di Iran.
Ia menuding bahwa operasi tersebut telah mengganggu arus normal pelayaran komersial dengan menyebabkan penghentian kapal tanker, gangguan perdagangan, dan tekanan kenaikan harga energi di pasar internasional.
Selat Hormuz dikenal sebagai jalur strategis bagi pergerakan minyak dan energi global, sehingga setiap eskalasi militer di kawasan ini berpotensi berdampak luas terhadap pasokan energi dan stabilitas ekonomi dunia.
Pernyataan Iran datang di tengah meningkatnya diskusi internasional mengenai mekanisme perlindungan pelayaran sipil, namun juga memunculkan kekhawatiran bahwa keterlibatan militer negara-negara lain dapat memperbesar risiko konfrontasi regional.
Pernyataan keras dari Teheran ini memberi tekanan diplomatik kepada Seoul yang tengah menimbang opsi untuk memastikan keamanan pelayaran bagi kapal-kapal berbendera dan kepentingan perdagangan nasional.
Sejumlah analis menilai bahwa respons Korea Selatan akan mempertimbangkan keseimbangan antara kewajiban keamanan internasional dan upaya menjaga hubungan ekonomi serta politik jangka panjang dengan negara-negara kawasan.
Ancaman dari pihak Iran juga berpotensi mendorong negara-negara lain untuk memperkuat saluran diplomasi guna meredam ketegangan, sembari mengupayakan jalur alternatif untuk menjamin keselamatan pelayaran dan pasokan energi.
Bagaimanapun, dinamika di Selat Hormuz tetap menjadi titik fokus yang memerlukan pengelolaan hati-hati dari semua pihak terkait agar risiko eskalasi dapat diminimalkan.





