Houthi Memperluas Kendali Bab al

Jakarta, Maret.id — Kelompok Houthi, yang juga dikenal sebagai Ansar Allah, dilaporkan memperluas kendali atas sejumlah pulau strategis di sekitar Laut Merah, sebuah perkembangan yang berpotensi mengubah dinamika keamanan pelayaran di Selat Bab al-Mandeb. Penguasaan wilayah-wilayah ini dinilai memberi kelompok itu posisi baru untuk memantau dan memengaruhi arus kapal yang melintasi salah satu jalur pelayaran internasional tersibuk tersebut.
Posisi Strategis di Kepulauan Hanish
Salah satu wilayah yang disebut berada di bawah kendali Houthi adalah Kepulauan Hanish di utara Bab al-Mandeb, yang berfungsi sebagai titik pemantauan alami terhadap kapal dari berbagai rute internasional. Dari pulau-pulau ini, pengawasan dapat menjangkau pergerakan kapal dari Asia Timur, Samudra Hindia, Laut Arab, hingga Teluk Aden, sehingga memperluas cakupan intelijen dan ancaman bagi lalu lintas pelayaran.
Kemampuan Militer dan Taktik Serangan
Sumber analisis menyebut Houthi telah mampu meluncurkan rudal balistik dari daratan Yaman untuk menyerang sasaran di perairan Laut Merah, meski sebagian besar kekuatan utama mereka berada jauh dari garis pantai. Selain rudal, kelompok itu juga diperkirakan dapat memanfaatkan rudal antikapal jarak pendek dan kendaraan udara tak berawak untuk menyerang kapal yang melintas, membuat ancaman menjadi lebih variatif dan sulit diprediksi.
Potensi Blokade dan Ancaman Penutupan Bab al-Mandeb
Sebelumnya Houthi menyatakan pembatasan pelayaran akan diberlakukan terhadap kapal-kapal tertentu, khususnya yang terkait Arab Saudi, namun mereka juga memberi peringatan bahwa Bab al-Mandeb dapat ditutup jika terjadi serangan terkoordinasi dari kekuatan internasional. Ancaman penutupan jalur ini, jika direalisasikan, berisiko mengganggu konektivitas antara Laut Merah, Teluk Aden, dan Samudra Hindia yang vital bagi perdagangan global.
Dampak pada Perdagangan dan Energi Global
Gangguan di Bab al-Mandeb diperkirakan dapat berdampak signifikan terhadap distribusi energi dan rantai pasok dunia; analis memperingatkan potensi berkurangnya pasokan minyak dan gas serta gangguan pada lalu lintas kontainer internasional. Beberapa estimasi menunjukkan gangguan simultan di Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz bisa memangkas antara 20–25 persen pasokan energi dunia dan menghambat sekitar 10 persen lalu lintas kontainer global, meski angka tersebut bergantung pada durasi dan skala gangguan.
Konsekuensi Ekonomi dan Logistik
Penutupan atau gangguan berkepanjangan akan meningkatkan biaya pelayaran dan asuransi kapal, memperpanjang waktu pengiriman, serta menambah tekanan pada rantai pasok yang sudah rentan. Sektor industri yang bergantung pada pasokan energi dan barang dari jalur tersebut bisa menghadapi kenaikan biaya produksi dan gangguan distribusi yang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global.
Respon Internasional dan Upaya Mitigasi
Komunitas maritim internasional dan negara-negara pengguna jalur pelayaran tersebut diperkirakan akan meningkatkan patroli dan koordinasi keamanan untuk menjaga kebebasan navigasi, sekaligus mendorong jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan. Di sisi lain, solusi jangka panjang menuntut upaya politik di Yaman dan kerja sama multilateral untuk mencegah eskalasi yang lebih luas serta menjamin kelancaran perdagangan internasional.
Situasi di sekitar Bab al-Mandeb dan penguasaan pulau-pulau strategis oleh Houthi menjadi perhatian utama pelaku maritim dan pengamat geopolitik, karena potensi dampaknya tidak hanya bersifat regional tetapi juga global. Pemantauan berkelanjutan dan respons terpadu dari komunitas internasional dinilai krusial untuk meredam risiko terhadap jalur pelayaran yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan dunia.





