WHO Disebut Hentikan Solar ke 20 Rumah Sakit Gaza, Waspada Krisis Medis!

Jakarta, Maret.id — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) disebut akan menghentikan pasokan bahan bakar solar ke lebih dari 20 rumah sakit dan pusat kesehatan di Gaza mulai 19 September 2026 karena keterbatasan pendanaan.
Ancaman terhadap layanan kesehatan dasar
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan wilayah Gaza, Dr. Munir al-Bursh, memperingatkan penghentian pasokan tersebut berpotensi memperburuk layanan kesehatan yang sudah rapuh. Ia mengatakan kondisi itu dapat menimbulkan “krisis baru dan pencekikan lebih lanjut” terhadap fasilitas medis di kawasan yang terdampak konflik.
Dampak operasional rumah sakit
Menurut al-Bursh, pemutusan pasokan solar akan menghentikan generator, menutup ruang operasi, dan mematikan unit perawatan intensif. Ia menegaskan penghentian itu juga akan menonaktifkan ventilator dan sistem oksigen yang penting bagi pasien kritis.
Risiko bagi pasien rentan
Kondisi ini bakal membahayakan bayi dalam inkubator, pasien yang menjalani dialisis, serta orang dengan penyakit kronis yang bergantung pada peralatan medis listrik. Dr. al-Bursh menyatakan bahwa kematian yang sebenarnya dapat dicegah bisa meningkat jika akses bahan bakar tidak segera pulih.
Ancaman pada ambulans dan rantai dingin
Selain mengganggu perawatan di fasilitas, penghentian bahan bakar akan melumpuhkan layanan ambulans yang mengangkut pasien darurat. Penyimpanan obat-obatan dan vaksin yang membutuhkan rantai dingin juga terancam karena generator yang memasok listrik untuk sistem pendingin kemungkinan tidak berfungsi.
Seruan resmi dilontarkan kepada WHO, para donor, dan komunitas internasional untuk mengambil tindakan tanggap terhadap keputusan penghentian tersebut. Al-Bursh meminta agar aliran dana dan pasokan bahan bakar diprioritaskan guna mencegah penutupan total rumah sakit.
Hingga laporan ini disusun, belum ada komentar langsung dari WHO mengenai pemberhentian pasokan yang dikemukakan oleh otoritas kesehatan Gaza. Sementara itu, pejabat lokal dan lembaga bantuan menilai langkah ini sebagai pukulan baru bagi upaya kemanusiaan di wilayah yang sudah menghadapi keterbatasan sumber daya.
Konteks penghentian pasokan bahan bakar ini berkaitan dengan krisis pendanaan yang lebih luas dalam upaya bantuan internasional di wilayah konflik. Para pengamat mengingatkan bahwa ketidakstabilan keuangan donor dapat langsung diterjemahkan menjadi gangguan layanan kesehatan dan peningkatan angka kematian yang seharusnya dapat dihindari.
Para pemangku kepentingan medis dan kemanusiaan menekankan pentingnya solusi jangka pendek berupa pasokan darurat bahan bakar dan intervensi logistik. Mereka juga mendesak ketersediaan mekanisme pendanaan berkelanjutan agar fasilitas kesehatan tetap beroperasi dalam jangka menengah dan panjang.
Situasi ini membuka kembali perdebatan tentang ketergantungan layanan publik pada pasokan eksternal dan perlunya sistem cadangan yang lebih kuat. Jika langkah-langkah darurat tidak segera diambil, dampak terhadap masyarakat sipil dapat meluas dan memperparah krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung.





