Dunia

KTT BRICS 2026: Prabowo Cari Kerja Sama Baru, Memanas Hubungan Barat!

Jakarta, Maret.id — Presiden Prabowo Subianto membawa tiga pesan utama Indonesia saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di New Delhi, India, dengan tujuan memperluas kerja sama yang berdampak langsung bagi masyarakat Indonesia.

Kehadiran Presiden di New Delhi

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menyatakan kehadiran Presiden dimanfaatkan untuk memperluas kerja sama yang diarahkan mendorong penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan.
Qodari menegaskan bahwa Indonesia datang ke forum internasional bukan semata untuk tampil, melainkan untuk mengamankan manfaat konkret bagi rakyat, seperti lapangan kerja dan peningkatan kualitas hidup.

Tiga Pesan Utama Indonesia

Menurut Qodari, tiga pesan utama yang disampaikan Presiden berkaitan dengan penciptaan lapangan kerja, pembangunan kemandirian nasional, dan upaya mencapai kemakmuran bersama melalui kerja sama antarnegara.
Dalam sesi tertutup, Presiden Prabowo menekankan bahwa Indonesia tidak ingin didikte oleh kekuatan mana pun sehingga kemandirian nasional harus dibangun dari dalam negeri, termasuk ketahanan pangan dan energi.

Aksi Kemandirian dan Pembangunan

Qodari menjelaskan bahwa kemandirian yang dimaksud meliputi kemampuan memenuhi kebutuhan pangan rakyat, menjaga ketahanan energi, menyediakan pendidikan berkualitas, dan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mencapai kemakmuran bersama.
Presiden juga mengajak negara-negara anggota BRICS untuk saling membantu mencapai kemakmuran bersama tanpa mengorbankan kedaulatan dan kepentingan nasional Indonesia.

Prinsip Politik Luar Negeri

Pemerintah menegaskan posisi Indonesia yang sejajar dalam kerja sama internasional dan tetap berpijak pada prinsip politik luar negeri bebas aktif.
Qodari menyatakan sikap tersebut konsisten dengan asas saling percaya dan keinginan tumbuh bersama tanpa memihak atau bergantung pada satu poros tertentu.

BRICS sebagai Mitra Strategis

BRICS saat ini beranggotakan Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, Etiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi, sehingga jika digabungkan keanggotaan tersebut mencakup hampir separuh populasi dunia.
Qodari menilai besarnya populasi dan keragaman ekonomi BRICS memberikan akses pasar dan peluang kerja sama yang strategis bagi Indonesia untuk mengamankan kepentingan nasional.

Relevansi di Tengah Tantangan Global

Di tengah kompleksitas situasi global dan meningkatnya proteksionisme ekonomi, penjajakan kerja sama dengan negara-negara BRICS dinilai relevan untuk memperkuat ketahanan nasional.
” Diversifikasi mitra ekonomi tersebut menjadi salah satu strategi Indonesia untuk memperkuat ketahanan nasional di tengah meningkatnya kompleksitas situasi global dan menguatnya proteksionisme ekonomi,” ujar Qodari.

Kehadiran Presiden dalam forum internasional ini, menurut pemerintah, juga merupakan bagian dari pelaksanaan tugas konstitusional sekaligus upaya memperkuat kepentingan masyarakat di dalam negeri.
Qodari menambahkan bahwa pendekatan diplomasi yang mengedepankan kepentingan nasional dan kerja sama pragmatis akan terus dijalankan demi kesejahteraan rakyat Indonesia.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button