AS Kehilangan hingga 30 Drone MQ

Jakarta, Maret.id — Laporan resmi yang dirilis 14 September 2026 oleh Lead Inspector General untuk Operation Epic Fury memaparkan skala kerugian Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran sampai dengan 30 Juni 2026. Dokumen itu menjadi paparan publik pertama yang merinci biaya finansial, kerusakan infrastruktur, serta dampak pada personel dan persediaan amunisi AS selama periode operasi.
Rangkuman biaya dan masalah pasokan
Laporan menyatakan pengeluaran Amerika Serikat mencapai sekitar US$33,4 miliar untuk operasi hingga 30 Juni 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar US$22,3 miliar digunakan untuk amunisi yang telah ditembakkan atau digunakan selama operasi, yang memicu kekurangan stok strategis dan mengungkap hambatan dalam rantai pasok amunisi.
Temuan itu menyoroti adanya shortfall pada inventori strategis dan keterbatasan kapasitas industri untuk mengisi kembali persediaan secara cepat. Pentagon dinilai perlu mempercepat proses pengadaan dan meningkatkan produksi agar persediaan amunisi kembali ke tingkat yang diperlukan untuk menjaga keberlanjutan operasi.
Kerusakan fasilitas dan dampak logistik
Serangan Iran tercatat merusak ratusan bangunan di sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, termasuk fasilitas di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania. Kerusakan meluas pada fasilitas operasional dan logistik menyebabkan sebagian distribusi harus dialihkan ke lokasi yang lebih jauh.
Laporan juga menyebutkan kerugian pada fasilitas diplomatik AS yang diperkirakan mencapai sekitar US$184 juta. Gangguan pada jalur logistik memaksa pengalihan suplai dan operasi pendukung ke pangkalan alternatif, termasuk penggunaan fasilitas transit yang lebih jauh seperti Diego Garcia.
Kerugian pada pesawat dan aset udara
Dampak terhadap aset udara tercatat cukup besar, meliputi berbagai jenis pesawat tempur, pesawat tanker, helikopter, pesawat komando, dan drone pengintai. Laporan merinci sejumlah tipe dan jumlah kerusakan sebagai berikut.
F-15E: sedikitnya empat unit hancur, dengan tiga unit jatuh akibat tembakan teman di atas Kuwait dan satu unit ditembak jatuh dalam pertempuran di Iran. F-35A: sedikitnya satu unit mengalami kerusakan akibat serangan Iran.
A-10: sedikitnya satu pesawat serang dilaporkan ditembak jatuh oleh pasukan lawan. KC-135: sedikitnya tujuh pesawat tanker mengalami kerusakan atau kehancuran, termasuk satu unit yang jatuh di Irak pada 12 Maret.
E-3 Sentry: sedikitnya satu pesawat peringatan dini rusak di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi. HH-60W: sedikitnya satu helikopter mengalami kerusakan saat menjalankan misi pencarian dan penyelamatan.
MQ-4C Triton: sedikitnya satu drone pengintai jatuh pada April. AH-6: empat helikopter dinyatakan hancur setelah dinilai tidak dapat dipulihkan selama operasi pencarian dan penyelamatan. AH-64 Apache: sedikitnya satu unit ditembak jatuh di dekat Selat Hormuz pada 8 Juni.
MH-60S: satu helikopter jatuh di Laut Arab pada 1 Juli, insiden yang dilaporkan berada di luar periode utama laporan. MQ-9 Reaper: hingga 30 drone dilaporkan hancur selama periode yang dimonitor.
Kerugian pada aset udara termasuk dampak signifikan terhadap kemampuan pengawasan, pengumpulan intelijen, dan serangan presisi yang selama ini didukung oleh drone dan pesawat khusus.
Korban personel dan implikasi operasional
Dalam catatan personel, laporan Pentagon mencatat sedikitnya 11 personel militer AS tewas dalam pertempuran dan tujuh lainnya meninggal akibat insiden non-tempur selama periode yang dilaporkan. Selain itu, sebanyak 417 personel militer AS dilaporkan terluka akibat serangan Iran hingga 30 Juni.
Beberapa serangan berhasil dicegat oleh sistem pertahanan AS dan sekutunya, namun pengawas Pentagon menegaskan bahwa sejumlah serangan tetap menimbulkan kerusakan terhadap fasilitas dan aset militer. Temuan ini mendorong evaluasi ulang terhadap kesiapan operasional, perlindungan pasukan, serta kebutuhan logistik dan persediaan jangka panjang.
Dampak kebijakan dan rekomendasi
Laporan Lead Inspector General menjadi bahan pertimbangan penting bagi pembuat kebijakan militer dan pengambil keputusan di Washington. Temuan terkait kekurangan amunisi dan hambatan produksi di industri pertahanan dipandang menuntut langkah cepat dalam pengadaan dan peningkatan kapasitas manufaktur.
Para analis menilai hasil laporan itu akan mempercepat diskusi soal prioritas anggaran, penguatan rantai pasok strategis, dan langkah mitigasi risiko terhadap pangkalan dan aset di kawasan. Evaluasi lanjutan juga dinilai penting untuk mengidentifikasi perubahan taktis yang diperlukan demi mengurangi paparan aset dan mengurangi korban di masa mendatang.





