3 Tahun Konflik Timur Tengah Memanas, Israel Gempur 100 Ribu Target Anjlok!

Jakarta, Maret.id — Militer Israel mengklaim telah menargetkan sekitar 100.000 sasaran di berbagai wilayah Timur Tengah sejak Oktober 2023 dalam operasi yang berlangsung selama tiga tahun terakhir.
Skala serangan dan rincian target
Angka yang dipublikasikan militer menyebutkan rincian wilayah sasaran, antara lain sekitar 65.000 target di Jalur Gaza.
Selain itu disebutkan sekitar 28.000 target gabungan di Lebanon dan Suriah, 4.500 di Iran, serta 80 di Yaman.
Pihak militer tidak memberikan keterangan rinci apakah angka itu menghitung serangan berulang pada lokasi yang sama.
Klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh lembaga internasional.
Cadangan dan mobilisasi pasukan
Untuk menopang intensitas operasional, Israel dilaporkan memperbesar jumlah pasukan cadangannya hingga 36 persen.
Unit cadangan tempur mengalami peningkatan beban tugas menjadi rata-rata 80 hingga 100 hari sepanjang 2026, jauh melampaui alokasi awal yang direncanakan sebesar 55 hari.
Sekitar 22.000 anggota cadangan yang sebelumnya purnatugas dikabarkan dipanggil kembali sejak instruksi mobilisasi yang berlaku pada Agustus 2024.
Peningkatan masa tugas dan pemanggilan kembali purnatugas dinyatakan sebagai respons terhadap kebutuhan operasional yang terus berkembang di lapangan.
Tepi Barat dan operasi penahanan
Eskalasi operasi militer juga melibatkan kawasan Tepi Barat yang diduduki, di mana militer menyatakan melakukan penahanan terhadap sekitar 45.000 orang untuk pemeriksaan.
Penahanan tersebut dikatakan menyasar individu yang dituduh melempar batu, memiliki senjata api, hingga pihak yang dicurigai merencanakan serangan.
Dalam berbagai operasi di wilayah tersebut, dilaporkan lebih dari 3.800 unit senjata disita oleh pasukan keamanan.
Klaim-keclaim terkait angka penahanan dan penyitaan senjata ini belum terkonfirmasi secara independen dari pihak ketiga.
Peluncuran proyektil ke wilayah Israel
Militer Israel melaporkan data mengenai peluncuran proyektil dari beberapa negara dan kelompok di kawasan.
Menurut pernyataan itu, sedikitnya 10.200 proyektil ditembakkan dari Gaza, 20.000 dari Lebanon, 1.200 dari Iran, 50 dari Suriah, dan 90 dari Yaman ke arah wilayah Israel.
Pihak militer juga mencatat bahwa jumlah tersebut merupakan akumulasi selama periode yang disebutkan dan belum bisa dibuktikan secara bebas oleh pengamat luar.
Kondisi di lapangan tetap dinamis dan angka-angka ini berpotensi berubah sesuai perkembangan operasi.
Korban personel dan kondisi prajurit
Tentara Israel mengonfirmasi sebanyak 970 anggota militer tewas selama bertugas dalam periode konflik yang dipaparkan.
Militer mengklaim lebih dari 70 persen prajurit yang sempat mengalami luka-luka telah pulih dan kembali bertugas di garis depan.
Dampak jangka panjang terhadap kesiapan dan kesejahteraan pasukan masih menjadi perhatian berbagai pihak di dalam dan luar negeri.
Para pemantau menyatakan beban yang berkepanjangan terhadap pasukan cadangan dapat memicu tekanan sosial dan ekonomi dalam negeri.
Latar belakang konflik dan dampak sipil
Rangkaian pertempuran ini bermula dari serangan terkoordinasi yang dipimpin kelompok bersenjata ke wilayah Israel selatan pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang.
Serangan itu memicu respons militer Israel yang kemudian berkembang menjadi kampanye berskala besar ke Jalur Gaza dan melebar menjadi krisis regional.
Otoritas kesehatan di Gaza mencatat jumlah korban tewas akibat gempuran telah melampaui angka 74.200 jiwa, menurut data yang mereka laporkan.
Angka korban sipil yang tinggi menjadi sorotan organisasi kemanusiaan dan negara-negara di kawasan untuk kebutuhan akses bantuan dan perlindungan warga sipil.
Situasi keamanan di kawasan tetap tegang dengan potensi eskalasi lanjut jika upaya diplomasi dan penghentian sementara operasi tidak tercapai.
Pihak-pihak internasional dan sejumlah negara terus menyerukan de-eskalasi dan perlindungan terhadap warga sipil sembari mengamati perkembangan di lapangan.





