Iran Masih Tinjau Proposal AS, Waspada Gangguan Pasokan Minyak!

Jakarta, Maret.id — Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan negaranya saat ini sedang meninjau poin-poin terbaru dari proposal yang dilayangkan Amerika Serikat sebagai tanggapan atas posisi Teheran. Baghaei menegaskan bahwa Iran akan menyampaikan pandangannya kepada para mediator segera setelah proses peninjauan tersebut selesai.
Proses Diplomasi Melalui Mediator
Baghaei memaparkan bahwa respons terbaru AS disampaikan kepada Iran melalui jalur mediator dalam pertemuan yang terkait rencana tujuh hari yang diajukan Teheran. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers mingguan yang digelar di Teheran.
Iran mengajukan rencana yang dikenal sebagai “rencana tujuh hari” untuk menghentikan permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz. Rencana tersebut pertama kali disampaikan melalui para mediator di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Isi Syarat Iran untuk Selat Hormuz
Menurut Baghaei, inti tuntutan Teheran meliputi pencabutan blokade laut oleh AS, penghentian konflik di semua front, dan pembebasan aset Iran yang dibekukan. Syarat-syarat tersebut, kata dia, tercantum dalam nota kesepahaman perdamaian yang ditandatangani antara Teheran dan Washington pada Juni lalu.
Baghaei menekankan bahwa syarat-syarat itu tidak berubah dan Iran tidak akan menunjukkan kelonggaran terkait hak-haknya. Pernyataan ini menggarisbawahi sikap tegas Teheran terhadap pemulihan hak yang mereka nilai sah.
Respons AS dan Isu Nuklir
Jubir itu juga menyebut bahwa AS sebelumnya telah mengajukan serangkaian tuntutan yang mencerminkan keprihatinan Washington, terutama terkait persoalan nuklir Iran. Menurut Baghaei, Washington masih menempatkan isu nuklir sebagai perhatian utama dalam negosiasi bilateral maupun perantara.
Di sisi lain, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan bahwa AS telah menerima sebagian dari tujuh syarat yang diajukan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun Rezaei menilai masih ada ketidakpastian mengenai sikap Washington terhadap syarat-syarat lain yang diajukan.
Bagaimanapun, dinamika negosiasi ini menunjukkan adanya interaksi diplomatik intens antara kedua negara melalui mediator internasional. Perkembangan lebih lanjut diperkirakan bergantung pada hasil peninjauan Iran terhadap proposal AS serta respons resmi yang akan disampaikan kepada mediator.
Pemerhati hubungan internasional mengatakan bahwa pembicaraan mengenai Selat Hormuz memiliki implikasi strategis dan ekonomi yang luas, mengingat peran jalur laut tersebut dalam arus energi global. Ketegangan yang dapat mempengaruhi kebebasan navigasi dan rantai pasokan energi menjadi perhatian utama bagi negara-negara pengguna jalur tersebut.





