Dunia

Musim kering memanas memicu karhutla, merugikan miliaran dolar Australia setiap tahun!

Jakarta, Maret.id — Musim kering yang semakin panjang akibat perubahan iklim diperkirakan akan menyebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang lebih sering dan lebih merusak, serta mengakibatkan kerugian ekonomi miliaran dolar setiap tahun selama tiga dekade ke depan. Pernyataan itu disampaikan dalam laporan yang disusun oleh Emergency Leaders for Climate Action (ELCA), sebuah organisasi yang terdiri dari mantan pemimpin dinas pemadam kebakaran dan respons kedaruratan.

Proyeksi Kerugian Ekonomi Nasional

Laporan ELCA memproyeksikan kerugian rata-rata sekitar 6 miliar dolar Australia per tahun selama 30 tahun mendatang akibat kebakaran yang dipicu perubahan iklim. Estimasi tersebut mencakup berbagai sektor dan menunjukkan dampak ekonomi berkelanjutan yang dapat menggerus anggaran publik dan swasta.

Sumber kerugian tersebut dipecah menurut dampak, dengan sekitar 32 persen berasal dari efek buruk terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Sektor perdagangan diperkirakan menyumbang 25 persen dari total kerugian, sementara 20 persen berasal dari kerusakan pada bisnis dan bangunan publik.

Dampak pada Perumahan dan Lapangan Kerja

Laporan menambahkan bahwa 17 persen dari proyeksi kerugian tahunan akan terkait dengan hilangnya tempat tinggal, yang mencerminkan peningkatan risiko pengungsian dan kebutuhan rekonstruksi. Sementara sekitar 6 persen kerugian diperkirakan akan berkaitan dengan hilangnya lapangan kerja akibat gangguan operasional dan kerusakan infrastruktur ekonomi.

Data historis yang dikutip dalam laporan menunjukkan perubahan nyata dalam pola kebakaran; musim kebakaran telah memanjang sekitar 21 persen sejak 1979. Perpanjangan musim ini mempersempit jendela waktu untuk langkah pencegahan dan mitigasi kebakaran yang efektif.

Perubahan Pola Cuaca Ekstrem

Wilayah tenggara Australia kini mengalami rata-rata 14 hari cuaca kebakaran ekstrem lebih banyak per tahun dibandingkan level pada 1998, menurut temuan laporan. Selain itu, frekuensi badai ekstrem yang dipicu kebakaran dilaporkan meningkat jauh, dengan catatan enam kali lipat selama periode 2004–2024 dibandingkan dua dekade sebelumnya.

Laporan juga mencatat bahwa kombinasi perubahan iklim dan fenomena iklim seperti El Niño meningkatkan risiko terjadinya rekor suhu panas dan kekeringan kilat. Kondisi ini dinilai dapat memperburuk intensitas dan jangkauan kebakaran pada musim-musim mendatang.

Kesiapan Sumber Daya dan Relawan

Sisi kesiapan respons menunjukkan tren mengkhawatirkan, yakni penurunan jumlah sukarelawan pemadam kebakaran. Perbandingan data 2023–2024 dengan empat tahun sebelumnya menunjukkan penurunan sekitar 10.336 sukarelawan, sementara posisi berbayar hanya bertambah 433 dalam periode yang sama.

Penurunan jumlah sukarelawan ini menjadi sorotan karena relawan selama ini memegang peran penting dalam respon awal di banyak komunitas regional. Dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas kebakaran, keberlanjutan dan penguatan kapasitas tenaga pemadaman menjadi prioritas kebijakan.

Peringatan untuk Dua Musim Panas Mendatang

ELCA mengingatkan bahwa dua musim panas mendatang berpotensi menghadirkan risiko yang sangat signifikan bagi masyarakat luas, terutama dengan adanya El Niño yang sedang berlangsung. Laporan menyebutkan bahwa kombinasi faktor ini “menciptakan kondisi bagi rekor suhu panas, kekeringan kilat, dan kemungkinan memburuknya kebakaran hutan dan lahan selama beberapa musim panas mendatang.”

Biro Meteorologi Australia dalam pembaruan terkininya pada awal Oktober juga menyatakan bahwa fenomena El Niño berada pada tingkat mendekati rekor dan diperkirakan akan menguat lebih lanjut. Peringatan ini menegaskan kebutuhan koordinasi lebih kuat antara otoritas cuaca, layanan darurat, dan pemerintah untuk melakukan mitigasi dan kesiapsiagaan.

Langkah kebijakan yang direkomendasikan dalam laporan mencakup peningkatan investasi pada kesehatan masyarakat, perlindungan infrastruktur kritis, dukungan bagi korban bencana, serta program rekrutmen dan pelatihan untuk mempertahankan jumlah petugas pemadam. Para pakar yang terlibat menyerukan tindakan segera untuk mengurangi dampak jangka panjang dan mengatasi ancaman yang semakin nyata ini.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button