Gaya Hidup

Kapal Pesiar Soroti Hantavirus, Intip Gejala dan Potensi Penularan!

Jakarta, Maret.id — Kekhawatiran global muncul setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi temuan kasus hantavirus jenis Andes pada sebuah kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di Samudera Atlantik pada 2 Mei 2026. Kasus ini memicu peringatan internasional karena jenis virus tersebut dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang berpotensi fatal.

Wabah di Kapal Pesiar MV Hondius

Kasus pernapasan parah pertama kali dilaporkan pada 2 Mei 2026 ketika kapal masih berlayar dengan 147 penumpang dan awak di atas kapal, sementara 34 orang telah turun sebelumnya. Menurut pembaruan Disease Outbreak News WHO pada 9 Mei 2026, hingga 8 Mei dilaporkan delapan kasus bergejala termasuk tiga kematian, dan enam kasus telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium sebagai infeksi hantavirus Andes (ANDV).

Negara-negara terkait telah menerima informasi dan dukungan dari WHO untuk pelacakan kontak internasional dan koordinasi penanggulangan. WHO juga mendorong langkah-langkah kesehatan masyarakat seperti pelacakan kontak, penanganan kasus, pencegahan penularan, dan komunikasi yang transparan antar negara.

Apa itu Hantavirus?

Hantavirus adalah kelompok virus dari keluarga Hantaviridae yang umumnya ditularkan dari hewan pengerat ke manusia dan bersifat zoonosis. Virus ini pertama kali diidentifikasi dalam bentuk yang menyebabkan demam berdarah ginjal pada Perang Korea, dan pada 1993 muncul varian baru di Amerika yang disebut Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).

HPS menyerang sistem pernapasan dengan gejala berat dan bisa berujung pada kematian, sedangkan varian lain seperti Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) lebih banyak menyerang fungsi ginjal. Nama hantavirus berasal dari Sungai Hantan di Korea Selatan, tempat pertama kali virus dihubungkan dengan penyakit tersebut.

Sebaran di Dunia dan Indonesia

Sebelum insiden MV Hondius, kasus hantavirus dengan angka tertinggi dilaporkan di China, Rusia, dan Korea yang umumnya terkait HFRS, sedangkan HPS lebih sering ditemukan di Amerika. Penemuan kasus Andes di kapal pesiar menjadi perhatian karena potensi penularan antarmanusia yang lebih besar pada tipe ini dibanding tipe lain.

Di Indonesia, hantavirus bukan penyakit baru dan bukan wilayah yang steril dari ancaman tersebut; data 2025–2026 menunjukkan adanya temuan kasus suspek dan terkonfirmasi di beberapa daerah termasuk Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara. Varian yang sering ditemukan di Indonesia adalah Seoul virus (SEOV) yang dibawa oleh tikus rumah, dan kasus dapat terjadi baik di pedesaan maupun di kota besar.

Cara Penularan dan Pencegahan

Penularan hantavirus pada manusia umumnya melalui inhalasi partikel aerosol yang terkontaminasi urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi. Kontak langsung dengan kotoran atau permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut juga dapat menularkan virus.

Gigitan tikus yang terinfeksi dapat menjadi jalur penularan meskipun jarang, dan beberapa varian seperti Andes virus diketahui dapat menular antarmanusia melalui kontak erat. Pencegahan utamanya meliputi pengendalian populasi tikus, menjaga kebersihan lingkungan, serta penggunaan masker dan disinfektan saat membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus.

Gejala dan Penanganan Klinis

Gejala hantavirus umumnya muncul 1–8 minggu setelah paparan dan diawali dengan fase mirip flu berupa demam, nyeri otot hebat, sakit kepala, dan kelelahan. Pada fase lanjut HPS terjadi sesak napas akut, batuk parah, dan penumpukan cairan di paru-paru yang dapat menyebabkan kegagalan pernapasan, sedangkan HFRS dapat menimbulkan tekanan darah rendah hingga gagal ginjal akut.

Hingga saat ini belum ada obat antivirus atau vaksin yang disetujui secara luas untuk semua jenis hantavirus, sehingga perawatan fokus pada terapi suportif di rumah sakit. Penanganan meliputi bantuan pernapasan, pengaturan cairan, pemantauan fungsi jantung, dan perawatan intensif di ICU bila diperlukan untuk meningkatkan peluang bertahan hidup.

Langkah pencegahan individual meliputi menjaga kebersihan rumah dan gudang, menutup sumber makanan bagi tikus, serta berhati-hati saat membersihkan area yang berdebu atau diduga tercemar kotoran tikus. Pihak berwenang kesehatan dan fasilitas medis dianjurkan mempertahankan kewaspadaan, melakukan pelacakan kontak secara cepat, dan memberikan informasi risiko kepada publik secara transparan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button