Gaya Hidup

Eka Kurniawan Bongkar Ide Awal Monster Pabrik Rambut!

Jakarta, Maret.id — Penulis novel Eka Kurniawan kembali berkolaborasi dengan sutradara Edwin untuk film horor terbaru berjudul Monster Pabrik Rambut yang menggelar pemutaran perdana dunia di Festival Film Berlin (Berlinale) 2026 dan mulai tayang di bioskop pada 4 Juni 2026. Kolaborasi ini melanjutkan kerja sama kreatif mereka setelah sukses adaptasi Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas pada 2021.

Kolaborasi kreatif berlanjut

Eka Kurniawan menjelaskan tawaran untuk bekerja sama muncul setelah proyek sebelumnya dan diskusi sederhana antara kedua kreator. Mereka sepakat membangun cerita dari premis baru yang berkembang menjadi naskah film.

Perbedaan menulis novel dan skenario

Menurut Eka, menulis novel lebih bersifat personal dan dilakukan secara individual, sedangkan skenario film adalah kerja tim yang menuntut kolaborasi intens. Ia menyatakan tantangan utama bukan sekadar ide tetapi dinamika ketika banyak pihak ikut menentukan bentuk akhir cerita.

Dari premis sederhana ke naskah panjang

Premis awal berawal dari gagasan sehari-hari: seseorang yang kurang tidur akibat lembur lalu mulai melihat hantunya, yang kemudian dipindahkan ke setting pabrik. Proses penulisan berlangsung hampir dua tahun dengan belasan versi naskah sebelum cerita akhirnya menemukan bentuknya.

Riset lapangan di pabrik wig

Eka dan Edwin melakukan riset langsung ke sebuah pabrik wig dan gudang penyimpanan untuk memperkuat atmosfer film. Pengalaman melihat peralatan produksi dan ruang-ruang yang senyap memberi nuansa menyeramkan yang kemudian diadaptasi ke dalam visual dan desain produksi.

Inspirasi dari komik dan film era 1980-an

Edwin menyebut komik-komik Indonesia era 1980-an sebagai sumber inspirasi utama dalam merancang sosok monster dan nuansa cerita. Selain itu, film-film horor Indonesia pada masa tersebut memberi pengaruh pada pendekatan visual serta penggunaan efek praktikal yang sederhana namun berkesan.

Efek praktikal dan estetika lama

Edwin menilai kesan “konyol” pada beberapa efek praktikal justru mampu meninggalkan jejak emosional lebih kuat kepada penonton dibanding efek modern. Pendekatan ini dipilih untuk menggabungkan unsur komedi, aksi, dan horor yang seringkali hadir bersamaan dalam komik lawas.

Monster sebagai metafora sosial

Di balik elemen fantasi, keduanya menegaskan Monster Pabrik Rambut berangkat dari kondisi sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Budaya kerja berlebihan yang dinormalisasi menjadi bahan bakar ketakutan yang ingin dieksplorasi oleh pembuat film.

Kritik terhadap normalisasi kerja berlebihan

Edwin mengatakan kondisi kerja yang membuat individu kehilangan kontrol terhadap diri sendiri pada akhirnya bisa menghasilkan konsekuensi fatal. Dari situ muncul gagasan bahwa “monster” dalam film bukan sekadar makhluk gaib melainkan manifestasi dari tekanan kerja yang dibiarkan dianggap biasa.

Pemain dan harapan penonton

Monster Pabrik Rambut dibintangi Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kiki Narendra yang membawa ragam karakter dan tonalitas berbeda ke layar. Para pemeran diharapkan mampu menerjemahkan keseimbangan antara horor, komedi, dan kritik sosial yang menjadi inti cerita.

Eka dan Edwin berharap film ini tidak hanya menghibur tetapi juga membuka percakapan publik mengenai dampak budaya kerja yang berlebihan. Mereka menargetkan agar penonton dapat menikmati lapisan hiburan sekaligus merenungkan pesan sosial yang diselipkan di balik estetika horor.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button