Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 Menampilkan Seni Cetak Grafis

Jakarta, Maret.id — Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) menghadirkan Paviliun Indonesia pada Venice Biennale Arte ke-61 tahun 2026 dengan pameran bertajuk “Printing the Unprinted”. Inisiatif ini menjadi bagian dari diplomasi kebudayaan Indonesia untuk memperkuat posisi seni rupa nasional di panggung internasional. Pameran yang menampilkan seni cetak grafis dari tujuh perupa lintas generasi diselenggarakan bekerja sama dengan Danantara Indonesia Trust Fund dan dikuratori oleh Aminudin TH Siregar di Scuola Internazionale di Grafica, Venesia.
Konsep dan narasi pameran
Paviliun menampilkan narasi epik tentang pelayaran besar abad ke-15 yang berlangsung selama 14 tahun (1472–1486). Cerita digarap melalui sudut pandang seorang arsiparis imajiner, Datu Na Tolu Hamonangan, dari Harajaon Pusuk Buhit di Sumatra, yang mendokumentasikan perjalanan tersebut dalam manuskrip fiksi Printing the Unprinted: The Story of the Grand Voyage. Manuskrip ini berisi 21 etsa yang terbagi dalam delapan babak dan merekonstruksi perjumpaan lintas budaya serta pertukaran teknologi, pengetahuan, dan simbol sepanjang rute yang melintasi Danau Toba, Malaka, Teluk Benggala, Gujarat, Hormuz, Laut Merah, Aleksandria, hingga Venesia.
Pelayaran digambarkan sebagai armada tiga kapal: Siboru Deak Parujar (Dewi Pencipta Batak) sebagai kapal induk; Naga Padoha (Ular Kosmik) sebagai kapal pengawal; dan Sahala ni Ombak (Roh Ombak) yang didedikasikan untuk penjelajahan ilmiah. Kisah-kisah dalam manuskrip mengeksplorasi tema-tema seperti otoritas sakral, kekuatan maritim, kartografi, flora-fauna, pertemuan budaya, teknologi, dan refleksi spiritual.
Babak pameran dan karya perupa
Paviliun menampilkan karya-karya dari Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin. Setiap perupa menyajikan rangkaian etsa yang merespons babak tertentu dalam manuskrip fiksi tersebut:
-
Agus Suwage menghidupkan tema Sacred Authority and Diplomacy melalui tiga etsa, termasuk The Oath at Pusuk Buhit; Audience at the Republic of Batu; dan Return to the Mountain of Origin, yang merekam deklarasi pelayaran dan konsepsi dunia Banua Tonga.
-
R.E. Hartanto memvisualisasikan Sea Power and Navigation lewat tiga lembar etsa: Departure Under the Southwest Monsoon Wind (1472); Storm Off Hormuz; dan The Aging Admiral’s Face, yang menyorot pengalaman admiral dan kru dalam menghadapi rute dan badai.
-
Syahrizal Pahlevi mengangkat Maps and Astronomy dengan karya seperti Rewriting the Circle of the World; Library of Florence; dan The Inversion of the World Map, menempatkan Danau Toba dan masyarakat Batak sebagai pusat pemetaan alternatif berbasis tradisi astrolab Islam.
-
Rusyan Yasin mengisahkan Flora and Fauna melalui Camphor Specimens and Andalas Wood; Encounters in the Alps; dan Garden of Two Climates, menggambarkan dokumentasi botani dan upaya adaptasi tanaman kembali di kepulauan.
-
Mariam Sofrina memotret pertemuan manusia dalam tema Faces and Culture lewat etsa Port of Malacca; Winter Market in Venice; dan West Gorga, yang menyorot interaksi dagang, pertukaran benda, dan ketertarikan lintas budaya.
-
Nurdian Ichsan mengeksplorasi Technology and Symbolism melalui Forging Iron at Lake Toba; Glass and Mechanical Clocks; dan The Hybrid Emblem of Harajaon, memperlihatkan pembelajaran teknik baru dan pembentukan simbol hibrida setelah kontak budaya.
-
Theresia Agustina Sitompul menutup rangkaian dengan tema Spiritual Reflection lewat Pre-Departure Ritual; Cathedral and the Echo of Gondang; dan Return to Silence, menyorot dimensi ritual dan reflektif perjalanan tersebut.
Sepanjang residensi, para perupa memproduksi etsa yang terinspirasi dari manuskrip fiksi itu, membangun narasi visual yang menghubungkan sejarah imajiner dengan isu kontemporer tentang identitas, pertukaran, dan memori kolektif.
Pernyataan pemerintah dan makna diplomasi kebudayaan
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai partisipasi Indonesia di Venice Biennale 2026 sebagai momentum penting, terutama karena ini merupakan partisipasi pertama yang diselenggarakan di bawah kementeriannya. Ia menekankan bahwa budaya bukan sekadar warisan tetapi fondasi bagi masa depan, dan kehadiran Indonesia bertujuan untuk memperkenalkan kebudayaan sekaligus berkontribusi pada percakapan global melalui seni.
Fadli Zon juga menggarisbawahi karakter megadiversitas Indonesia—lebih dari 17.000 pulau, sekitar 1.340 kelompok etnis, dan ratusan bahasa daerah—yang terbentuk oleh sejarah pertukaran maritim, tradisi spiritual, dan inovasi artistik. Menurutnya, kekayaan ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu ekosistem budaya paling dinamis di dunia, dengan jejak kreativitas yang berlangsung sejak prasejarah.
Pameran Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 diharapkan membuka ruang bagi pengakuan dan dialog internasional terhadap praktik-praktik seni cetak grafis Indonesia serta memperkuat posisi negara dalam jaringan pertukaran kebudayaan global.