Gaya Hidup

Bahasa Daerah Terancam? Yuk Jaga Bareng!

Jakarta, Maret.id — Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) mengingatkan bahwa sekitar 800 bahasa daerah di Indonesia menghadapi ancaman kepunahan jika upaya pelestarian tidak segera diperkuat oleh seluruh lapisan masyarakat. Pernyataan itu disampaikan oleh Ketua Umum DPP KSBN Mayor Jenderal TNI (Purn.) Drs. Hendardji Soepandji, S.H., yang menekankan pentingnya kebijakan dan gerakan kolektif untuk mempertahankan kekayaan bahasa sebagai bagian dari identitas nasional.

Identitas Budaya dalam Bahaya

Hendardji menyatakan bahwa bahasa daerah merupakan unsur utama identitas komunitas dan menyumbang keragaman budaya bangsa. Ia memperingatkan bahwa kehilangan bahasa sama halnya dengan tergerusnya tradisi, cerita rakyat, serta pengetahuan lokal yang tak ternilai.

Peran Masyarakat dan Pemerintah

Menurut Hendardji, tanggung jawab pelestarian tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada pemerintah; peran aktif masyarakat menjadi kunci utama. Ia mendorong keluarga, komunitas lokal, lembaga pendidikan, dan organisasi kebudayaan untuk menghidupkan penggunaan bahasa daerah dalam kegiatan sehari-hari.

Hendardji menilai promosi budaya juga harus bersifat proaktif dan terencana agar budaya lokal tidak mudah diklaim atau terlupakan. Langkah-langkah promosi itu, kata dia, bisa dilakukan melalui kegiatan seni, pendidikan, media lokal, dan penggunaan bahasa daerah di ruang publik.

Program Penghidupan Kembali Bahasa Lokal

KSBN berencana menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah dan komunitas untuk menginisiasi program revitalisasi bahasa di wilayah-wilayah yang penuturnya menurun. Program tersebut mencakup pelatihan guru bahasa lokal, pengembangan materi ajar berbasis bahasa daerah, serta festival budaya yang menempatkan bahasa sebagai pusat kegiatan.

Organisasi juga akan memfasilitasi dokumentasi bahasa yang terancam punah agar kosakata, cerita, dan tata bahasa dapat disimpan secara digital dan dipelajari generasi mendatang. Dokumentasi ini diharapkan menjadi bahan rujukan akademis dan sumber daya bagi program pembelajaran lokal.

Hendardji menambahkan bahwa sinergi antara generasi muda dan tetua adat menjadi hal penting dalam transmisi bahasa. Peran orang tua dan tokoh adat dalam menuturkan bahasa di rumah serta dalam upacara adat harus dipertahankan untuk menjamin keberlangsungan penutur asli.

Respons Komunitas dan Tantangan

Sejumlah pendengar dan warga menyampaikan keprihatinan atas menurunnya jumlah penutur bahasa daerah di beberapa daerah. Mereka mencatat bahwa urbanisasi, migrasi, serta dominasi bahasa nasional dan asing telah mempercepat pergeseran bahasa di kalangan anak muda.

Tantangan lain yang dihadapi antara lain minimnya materi pembelajaran yang relevan, kurangnya insentif bagi pengajar bahasa daerah, serta terbatasnya ruang publik yang menggunakan bahasa lokal. KSBN menilai bahwa intervensi terukur dan pendanaan yang berkelanjutan diperlukan untuk mengatasi hambatan tersebut.

Hendardji menekankan pentingnya kebijakan yang mendukung penggunaan bahasa daerah di sekolah dasar dan media lokal sebagai cara praktis untuk meningkatkan jumlah penutur. Ia mengajak pemerintah pusat dan daerah untuk menyusun kebijakan yang memfasilitasi integrasi bahasa daerah dalam kurikulum dan program kebudayaan.

Akhirnya, KSBN menyerukan agar seluruh elemen masyarakat melihat pelestarian bahasa daerah sebagai investasi masa depan. Dengan langkah kolektif, organisasi berharap keragaman linguistik Indonesia tetap menjadi aset yang hidup dan diwariskan ke generasi mendatang.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button