Gaya Hidup

Pemkab Tangerang Ngurangin Takaran Obat Gara

Jakarta, Maret.id — Pemerintah Kabupaten Tangerang menyiapkan sejumlah langkah antisipatif, termasuk pengurangan takaran pemberian obat dan pembentukan stok cadangan, menyusul potensi kenaikan harga obat akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Direktur RSUD Tigaraksa, Muhammad Faridzi Fikri, mengatakan pihaknya telah memperoleh informasi awal dari distributor yang memprakirakan kenaikan harga obat antara 15 hingga 20 persen.
Fikri menjelaskan sebagian besar bahan baku obat masih bergantung pada impor sehingga produk yang menggunakan bahan baku asing lebih rawan terdampak daripada obat yang diproduksi secara lokal.

Langkah konkret rumah sakit

RSUD Tigaraksa mengaku telah menyiapkan buffer stock atau stok cadangan obat untuk menjaga ketersediaan layanan selama enam bulan ke depan.
Selain itu, manajemen rumah sakit juga akan melakukan efisiensi pada pos anggaran non-prioritas apabila kenaikan harga obat benar-benar terjadi.

Fikri menegaskan pelayanan kesehatan di RSUD Tigaraksa tidak akan terganggu karena sebagian besar kebutuhan obat untuk anggaran 2026 sudah dibelanjakan sebelum adanya informasi kenaikan harga.
Ia menambahkan pihak rumah sakit akan memantau perencanaan kebutuhan untuk tahun anggaran 2027 sambil menyesuaikan pasokan sesuai perkembangan harga.

Penyesuaian distribusi oleh Dinas Kesehatan

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, menyatakan akan menyesuaikan distribusi obat di seluruh puskesmas dengan mengurangi jumlah obat yang diberikan per kunjungan pasien.
Hendra menyebut, sebagai contoh, obat yang biasanya diberikan untuk 10 hari mungkin akan dikurangi menjadi lima hari sambil memastikan stok tetap tersedia.

Menurut Hendra, kebijakan pengurangan takaran tidak dimaksudkan untuk mengurangi efektivitas pengobatan karena pasien akan diminta melakukan kontrol ulang lebih cepat untuk mendapatkan lanjutan obat.
“Kebijakan ini akan berjalan selama harga obat masih tinggi. Kalau kondisi sudah normal, tentu akan kembali seperti semula,” ujar Hendra pada Minggu, 14 Juni 2026.

Kelompok obat yang paling berisiko

Kelompok obat yang diperkirakan paling terdampak adalah antibiotik serta obat untuk penyakit tidak menular seperti hipertensi dan kanker yang kandungan bahan bakunya banyak impor.
Sementara obat-obatan umum seperti vitamin, obat sakit kepala, dan obat dasar lainnya diperkirakan relatif aman karena pasokannya banyak diproduksi di dalam negeri.

Pihak rumah sakit dan dinas kesehatan menegaskan kebijakan penyesuaian distribusi dan efisiensi anggaran merupakan langkah sementara yang dilakukan untuk menjaga kontinuitas layanan kesehatan publik.
Mekanisme penggantian biaya untuk peserta BPJS Kesehatan dipastikan tidak berubah sehingga peserta tidak akan terdampak langsung dari kenaikan harga obat dalam hal pembiayaan perawatan.

Pejabat daerah juga telah mengupayakan pengajuan tambahan anggaran sebagai upaya mitigasi jangka menengah jika tekanan harga berlanjut.
Pemantauan harga dan koordinasi dengan distributor serta produsen lokal akan terus dilakukan guna memastikan ketersediaan obat dan meminimalkan gangguan pelayanan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button