NASA Kirim Misi DAPHNE Biar Cuaca Antariksa Aman!

Jakarta, Maret.id — NASA memilih konsep misi bernama DAPHNE (Dynamic Atmosphere-Ionosphere Explorer) untuk menelaah dampak cuaca antariksa terhadap atmosfer Bumi dan infrastruktur teknologi modern, termasuk sistem navigasi berbasis GPS dan satelit orbit rendah. Misi ini diproyeksikan memakai dua satelit kembar untuk memperkuat kemampuan prediksi gangguan antariksa yang dapat mengancam komunikasi, navigasi, serta keselamatan awak antariksa.
Apa itu DAPHNE?
DAPHNE adalah program penelitian yang dirancang untuk mengisi celah pemahaman tentang interaksi antara lapisan bawah dan atas atmosfer Bumi, khususnya bagaimana dinamika di troposfer dan mesosfer dapat memengaruhi kondisi di termosfer dan ionosfer. Fokusnya adalah menghasilkan data observasi simultan yang dapat meningkatkan ketepatan model cuaca antariksa yang saat ini mengandalkan pengukuran terpisah dan asumsi yang lebih sederhana.
Desain misi dan pengamatan
Rencana misi melibatkan dua satelit identik yang ditempatkan untuk melakukan pengukuran serentak terhadap angin netral, suhu, dan komposisi kimia di wilayah termosfer, zona transisi antara atmosfer dan ruang angkasa. Pengukuran serentak ini memungkinkan peneliti mengevaluasi transfer energi dan momentum dari lapisan bawah menuju lapisan atas yang menjadi sumber variabilitas cuaca antariksa.
Instrumen dan data yang diharapkan
Instrumen pada satelit DAPHNE akan mengukur parameter fisika dan partikel yang krusial seperti kecepatan angin netral, profil suhu, serta komposisi gas di ketinggian tinggi, dan menggabungkannya dengan pengukuran energi dari lapisan bawah. Data gabungan tersebut diharapkan memperbaiki model prediksi gangguan yang selama ini sulit memetakan hubungan sebab-akibat antara proses atmosferik rendah dan efek di ionosfer.
Manfaat bagi teknologi dan misi antariksa
Hasil misi DAPHNE berpotensi mengurangi risiko gangguan pada sistem GPS, komunikasi satelit, dan satelit penginderaan jauh, serta membantu operator satelit dan layanan transportasi navigasi mencari strategi mitigasi yang lebih efektif. Selain itu, pemahaman lebih baik tentang cuaca antariksa juga mendukung persiapan misi berawak ke Bulan dan Mars dengan mengantisipasi paparan radiasi serta kondisi lingkungan antariksa.
Kepemimpinan, jadwal, dan anggaran
Misi ini dipimpin oleh Aimee Merkel dari Laboratory for Atmospheric and Space Physics (LASP) di University of Colorado Boulder, dan dijadwalkan memasuki fase pengembangan lanjutan (Phase B) yang mencakup perencanaan terperinci dan desain teknis. Evaluasi kesiapan dan pendanaan untuk fase berikutnya direncanakan pada 2027, dengan perkiraan biaya pengembangan mencapai sekitar 250 juta dolar AS tidak termasuk biaya peluncuran, dan peluncuran paling cepat pada 2029 jika disetujui.
Pernyataan pejabat NASA
Nicola Fox, Associate Administrator for Science di NASA, menegaskan bahwa DAPHNE merupakan bagian penting dari upaya memperkuat kesiapsiagaan terhadap gangguan cuaca antariksa yang semakin relevan bagi infrastruktur modern. Menurut Fox, data observasi baru dari misi semacam ini akan meningkatkan akurasi peringatan dini dan mendukung kebijakan mitigasi berbasis bukti.
DAPHNE diposisikan sebagai langkah strategis dalam rangka meningkatkan koordinasi antara pengamatan ruang dekat Bumi dan model atmosfer global, sehingga dampak dari badai geomagnetik atau peningkatan aktivitas Matahari dapat diprediksi lebih cepat dan tepat. Jika disetujui dan berhasil diluncurkan, misi ini diharapkan memberi kontribusi signifikan terhadap perlindungan layanan kritis di Bumi serta keselamatan misi antariksa manusia.