Misi Euclid Ngintip Jantung Bima Sakti, Bongkar Planet Tersembunyi!

Jakarta, Maret.id — Teleskop ruang angkasa Euclid milik Badan Antariksa Eropa (ESA) dengan dukungan NASA berhasil memotret wilayah inti Galaksi Bima Sakti sebagai pratinjau penting untuk survei yang akan dilakukan oleh Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman milik NASA yang dijadwalkan diluncurkan musim panas 2026. Pengamatan awal ini membuka peluang pengamatan lebih lama dan lebih detail terhadap pusat galaksi yang padat dan kompleks.
Pengamatan Euclid
Euclid, yang sejatinya dirancang untuk survei kosmologi, menghentikan sementara pengamatan rutinnya untuk melakukan pemotretan khusus ke arah pusat Bima Sakti. Dalam satu hari pengamatan pada Maret 2025, Euclid merekam area langit seluas sekitar lima derajat persegi, setara dengan 25 kali ukuran Bulan purnama.
Peran Teleskop Roman
Nancy Grace Roman akan melaksanakan Galactic Bulge Time-Domain Survey yang menargetkan wilayah berbeda namun akan memantau secara berulang dalam jangka panjang. Roman dirancang untuk mengawasi perubahan pada ratusan juta bintang selama periode hingga lima tahun, memungkinkan deteksi fenomena-fenomena sementara yang sulit diamati sebelumnya.
Kolaborasi Data dan Keunggulan
Gabungan data Euclid dan Roman diperkirakan dapat memperpanjang jendela pengamatan untuk pusat galaksi hingga dua tahun, sehingga astronom bisa mempelajari dinamika dan populasi objek di wilayah tersebut dengan presisi lebih tinggi. Menurut Jason Rhodes, peneliti di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, langkah ini adalah satu-satunya kali Euclid menghentikan survei kosmologinya demi pengamatan khusus, yang menunjukkan nilai ilmiah tinggi dari koordinasi kedua misi.
Potensi Penemuan Astrofisika
Salah satu fokus utama survei Roman adalah fenomena microlensing, yakni pembelokan dan perbesaran cahaya bintang latar oleh gravitasi objek masif di depan. Melalui metode ini para ilmuwan berharap dapat menemukan planet pengembara yang tidak mengorbit bintang, bintang redup, serta lubang hitam yang selama ini tersembunyi karena ketiadaan bintang pendamping.
Signifikansi bagi Studi Lubang Hitam dan Planet
Para peneliti memperkirakan terdapat sekitar 100 juta lubang hitam bermassa bintang di Bima Sakti, namun sebagian besar belum terdeteksi secara langsung. Data awal dari Euclid diperkirakan akan mempermudah Roman dalam mengidentifikasi dan mengukur massa objek-objek tersebut secara lebih akurat, sehingga menghasilkan peta populasi yang lebih lengkap.
Kolaborasi antara misi Eropa dan Amerika ini diharapkan memperkaya pemahaman tentang struktur dan evolusi pusat galaksi, termasuk distribusi massa dan populasi objek gelap yang sulit diamati. Langkah-langkah pengamatan terpadu seperti ini menjadi kunci untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penting mengenai komposisi tersembunyi Bima Sakti.