Bernadya Bongkar Makna Album Semoga Hanya di Mimpi!

Jakarta, Maret.id — Penyanyi Bernadya meluncurkan album terbarunya bertajuk “Semoga Hanya di Mimpi” yang menurutnya lahir dari harapan agar segala ketakutan hanya menjadi bagian dari mimpi dan tidak terjadi di dunia nyata. Album ini mengambil judul dari salah satu lagu yang dianggap Bernadya merepresentasikan gabungan harapan dan kecemasan pribadinya.
Peluncuran dan makna album
Peluncuran album dirangkaikan dengan press conference dan showcase yang digelar di Jakarta pada Jumat, 26 Juni 2026. Bernadya menjelaskan bahwa setiap lagu di album itu merupakan curahan ketakutan yang ia harapkan hanya muncul dalam mimpi, dan ia berharap konten tersebut tidak menjadi kenyataan.
Bernadya mengatakan, “Jadi itu adalah harapanku, track-tracknya adalah isi ketakutanku yang aku harap itu cuma ada di mimpi. Mudah-mudahan nggak beneran,” saat menjelaskan inti emosional album tersebut. Pernyataan ini menjadi kunci pemahaman terhadap tema album yang menggabungkan unsur kerentanan dan optimisme.
Eksplorasi musikal
Secara musikal, Bernadya memilih pendekatan berbeda sebagai upaya eksplorasi dan pengembangan dari karya-karya sebelumnya. Ia menilai perubahan warna musik diperlukan untuk membangun pengalaman baru bagi pendengar sekaligus mencerminkan perjalanan kreatifnya.
Untuk mewujudkan variasi suara itu, Bernadya menggandeng banyak produser dan penulis lagu dengan perspektif beragam sehingga album menghadirkan warna yang lebih kaya. Ia mengakui bahwa kolaborasi lintas produser memberi dimensi baru pada karya yang pada akhirnya terlihat “warna-warni” dan mampu menangkap maksud artistiknya.
Konsep visual dan inspirasi 2000-an
Dari sisi visual, konsep album sengaja mengambil nuansa era 2000-an yang menjadi benang merah estetika produksi. Bernadya menyebut warna-warna visual itu muncul selama proses produksi di Jepang, namun tujuan utama adalah membangun atmosfer era tersebut, bukan menonjolkan nuansa Jepang secara literal.
“Cuman kita gak mau, sebenernya orang tuh ngerasain itu Jepang. Cuman kita aimnya adalah 2000-an gitu warnanya, cuma entah kenapa warna itu bisa didapatnya disana,” ujarnya, menegaskan fokus pada citra tahun 2000-an sebagai rujukan estetika. Pendekatan ini dipadukan dengan produksi musik yang mencoba menghidupkan kembali nuansa era tersebut melalui sentuhan modern.
Respons dan harapan untuk pendengar
Bernadya berharap album ini tidak hanya menjadi ekspresi pribadi, tetapi juga medium agar pendengar bisa meresapi dan mungkin menemukan penghiburan dari ketakutan yang sama. Ia optimistis publik akan menangkap pesan dan nuansa yang ingin disampaikan melalui kombinasi lirik, musik, dan visual.
Dengan rangkaian lagu yang dianggapnya sebagai representasi ketakutan yang dibungkus harapan, Bernadya menempatkan album ini sebagai lanjutan perjalanan artistiknya yang berani bereksperimen. Rencana promosi dan pertunjukan live akan dilakukan untuk memperkenalkan karya ini lebih luas ke publik.