Bernadya Pilih Laut yang Tenang Jadi Arah Album!

Jakarta, Maret.id — Bernadya menyatakan lagu “Laut yang Tenang” menjadi pijakan utama yang mengarahkan penulisan seluruh materi album terbarunya, Semoga Hanya di Mimpi.
Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers dan showcase album yang digelar di Jakarta pada Jumat, 26 Juni 2026. Acara tersebut menampilkan Bernadya bersama sejumlah musisi dan produser yang terlibat dalam proses produksi album.
Lagu Pembuka dan Arah Album
Bernadya memilih “Laut yang Tenang” sebagai single pembuka sekaligus track pertama karena lagu itu dianggap sebagai titik awal pengembangan tema album. Keputusan ini menjadi landasan bagi penyusunan tema dan nuansa lagu-lagu lain dalam album.
Proses Kreatif dan Frasa Kunci
Menurut Bernadya, gagasan lagu berawal dari keresahan personal yang kemudian dikembangkan menjadi metafora dan lirik bersama rekan-rekannya. Dari proses itu lahir frasa penting “Laut yang tenang patut dicurigai” yang kemudian menjadi inti narasi lagu.
Dalam penjelasannya, Bernadya menyebut ia sempat kesulitan menemukan apa yang “patut dicurigai” sehingga menunda penyelesaian lirik. Ia menuturkan bahwa dialog kreatif dengan rekannya membantu menemukan formula frase yang akhirnya menjadi titik tumpu lagu.
Kolaborasi dengan Baskara Putra dan Enrico Octaviano
Baskara Putra dan Enrico Octaviano berperan dalam merumuskan metafora dan arah penulisan bersama Bernadya, memfasilitasi proses kreatif sejak tahap awal. Baskara mengungkapkan ide lagu bermula ketika Bernadya mengaku belum menemukan tema untuk album keduanya, sehingga mereka mencari simbolisme yang tepat untuk menggambarkan kegelisahan tersebut.
Baskara mengatakan mereka bertiga berdiskusi intens untuk menentukan topik, metafora, dan simbolisme yang sesuai, dan dari perbincangan itu konsep “Laut yang Tenang” muncul sebagai representasi rasa was-was terhadap ketenangan yang tiba-tiba. Peran Enrico sebagai kolaborator juga membantu menyempurnakan struktur musikal dan atmosfer yang ingin dicapai pada lagu pembuka.
Pengaruh Lagu terhadap Sisa Materi
Bernadya menjelaskan bahwa tema lagu awal tersebut kemudian mengarahkan penulisan seluruh sisa track album. Ia menambahkan bahwa banyak lagu lain dalam album lahir dari refleksi atas ketakutan dan kecemasan yang muncul ketika kehidupan sedang tampak tenang.
Menurut penyanyi dan penulis lagu itu, proses penulisan menjadi semacam eksplorasi terhadap emosi yang mungkin tersembunyi di balik permukaan kenyamanan, sehingga konsep album berkisar pada ambiguitas antara kenyamanan dan kekhawatiran. Produksi album juga diarahkan untuk menguatkan nuansa yang tercermin dalam lirik dan aransemen, sehingga setiap lagu saling melengkapi tema besar.
Acara showcase menampilkan sebagian materi album dan memperlihatkan bagaimana komposisi musikal disusun untuk mendukung cerita lirik. Penonton dan pihak terkait mendapat kesempatan mendengar interpretasi utuh dari lagu-lagu yang akan dimasukkan dalam Semoga Hanya di Mimpi.
Pihak produksi dan musisi menyatakan album tersebut merupakan langkah lanjutan dalam perjalanan kreatif Bernadya dan diharapkan dapat memberi ruang bagi pendengar untuk merenungkan tema ketenangan yang menyimpan tanda-tanda kecemasan. Rencana rilis dan rangkaian tur atau penampilan lanjutan akan diumumkan kemudian sesuai jadwal promosi yang disusun pihak manajemen.