Presiden Tantang Kampus Bikin Solusi Maju Bangsa!

Jakarta, Maret.id — Presiden Prabowo Subianto mendorong perguruan tinggi untuk menjadi pusat lahirnya solusi atas berbagai persoalan bangsa saat menutup Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2026. Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto kepada wartawan usai acara penutupan.
Dorongan terhadap kebebasan akademik dan sinergi nasional
Brian mengatakan Presiden menegaskan pentingnya persatuan seluruh potensi bangsa untuk mempercepat kemajuan Indonesia. Presiden menilai perbedaan pandangan bisa menjadi kekuatan jika diarahkan untuk mencari solusi terbaik bagi negara.
Presiden, menurut Brian, menempatkan sains, teknologi, riset, dan inovasi sebagai fondasi utama kemajuan nasional. Penekanan itu ditujukan agar akademisi dan peneliti lebih aktif menghasilkan gagasan yang relevan bagi kebutuhan pembangunan.
Peran perguruan tinggi dalam pengembangan solusi
Brian menyebut bahwa perguruan tinggi harus menjadi ruang kebebasan akademik tempat gagasan dan kajian ilmiah berkembang melalui diskusi yang konstruktif. Harapannya, kajian-kajian tersebut menghasilkan solusi nyata yang mempercepat kemajuan dan kemandirian bangsa.
Presiden juga mendorong pemanfaatan sebanyak mungkin potensi guru besar dan akademisi untuk mendukung program pembangunan nasional. Perguruan tinggi dipandang sebagai wadah berkumpulnya sumber daya manusia terbaik yang bisa dioptimalkan untuk kepentingan negara.
Tindak lanjut Sarasehan: pembentukan kelompok kerja
Sebagai tindak lanjut Sarasehan Kebangsaan, Presiden mendukung pembentukan kelompok-kelompok kerja yang bertugas menerjemahkan hasil diskusi menjadi langkah konkret. Kelompok kerja ini diharapkan mempercepat pemanfaatan hasil riset perguruan tinggi oleh industri dan kementerian terkait.
Brian menegaskan bahwa kelompok kerja tersebut harus mampu mempercepat hilirisasi riset sehingga inovasi siap dipakai dalam skala industri. Tujuannya adalah memperpendek jarak antara laboratorium dan pasar demi mendukung arah industrialisasi nasional.
Peta jalan riset nasional untuk masa depan teknologi
Kepala BRIN Arif Satria menyatakan bahwa BRIN bersama Kemendiktisaintek sedang menyusun peta jalan riset nasional yang akan diluncurkan di Surabaya. Dokumen tersebut dirancang menjadi acuan pengembangan riset Indonesia hingga tahun 2045.
Arif menjelaskan peta jalan itu akan menjadi panduan bagi perguruan tinggi, industri, dan pemerintah dalam merancang riset strategis yang sesuai dengan kebutuhan teknologi masa depan. Dengan demikian, arah industrialisasi tidak lagi didasarkan pada anggapan semata tetapi pada data proyeksi teknologi yang berkembang.
Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, BRIN, dan dunia industri menjadi kunci percepatan pengembangan dan hilirisasi riset. Harapan bersama adalah hasil penelitian dapat segera dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan dan kemandirian nasional.
Respons akademisi dan tantangan implementasi
Brian menyampaikan Presiden meminta akademisi dan ilmuwan berani mengidentifikasi persoalan nasional dan menawarkan solusi konkret. Langkah ini memerlukan keberanian intelektual dan kesediaan untuk bekerja sama lintas sektor.
Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil kajian akademik dapat masuk ke meja pembuat kebijakan dan fasilitas produksi industri. Untuk itu diperlukan mekanisme yang jelas agar penelitian tidak berhenti di publikasi tetapi terwujud menjadi produk dan kebijakan yang berdampak.
Penutupan KSTI 2026 diwarnai seruan agar seluruh pemangku kepentingan memperkuat jejaring riset dan mempercepat transfer teknologi. Jika sinergi ini berhasil, diharapkan riset nasional mampu mendorong percepatan pembangunan ekonomi dan kemandirian teknologi Indonesia.