Legislator Geram: Dokter Spesialis Tumbuh Kembang Anak Langka?

Jakarta, Maret.id — Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI Lucy Kurniasari mengingatkan adanya kekurangan signifikan dokter spesialis tumbuh kembang anak di Indonesia sehingga akses pelayanan bagi kelompok pasien rapuh menjadi terbatas. Pernyataan itu disampaikan saat ia menuturkan pengalaman keluarga yang kesulitan mendapatkan perawatan bagi cucunya yang mengalami cerebral palsy.
Kelangkaan Spesialis dan Dampaknya
Lucy menyampaikan bahwa layanan tumbuh kembang anak masih tersedia di sedikit rumah sakit rujukan, sehingga antrean pasien bisa mencapai hingga satu tahun. Kondisi ini memaksa keluarga mencari layanan jauh dari daerah asal mereka dan menunggu waktu panjang untuk mendapatkan penanganan.
Ia menjelaskan bahwa layanan tumbuh kembang tidak hanya berupa konsultasi medis, melainkan juga terapi intensif dan pembuatan alat bantu yang disesuaikan kebutuhan pasien. Keterbatasan jumlah tenaga spesialis berdampak pada kualitas dan kontinuitas intervensi yang sangat menentukan hasil perkembangan anak.
Pengalaman Keluarga sebagai Gambaran
Dalam kunjungannya ke fasilitas kesehatan anak, Lucy menyebutkan pengalamannya menemukan antrean panjang dan keterbatasan fasilitas khusus di wilayah penanganan. Ia menyebutkan bahwa pada satu pusat layanan terdapat sekitar 100 pasien yang sedang menjalani penanganan, termasuk pasien yang datang dari daerah lain seperti Lombok.
Menurut Lucy, kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap layanan tumbuh kembang anak jauh melebihi kapasitas yang tersedia. Oleh karena itu, perlu upaya memperluas ketersediaan layanan agar penanganan dini dapat segera diberikan kepada anak yang membutuhkan.
Upaya Perluasan Layanan dan Rekomendasi
Lucy mendorong agar pemerintah dan penyelenggara fasilitas kesehatan mempertimbangkan penambahan unit tumbuh kembang di rumah sakit daerah dan pusat rujukan regional. Penambahan sumber daya manusia, pelatihan spesialis, serta fasilitas terapi dan produksi alat bantu menjadi prioritas menurutnya.
Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antarinstansi untuk memastikan jalur rujukan, pembiayaan, dan ketersediaan alat bantu berjalan efektif. Langkah-langkah tersebut dinilai perlu agar intervensi sejak dini dapat dilakukan lebih merata dan mengurangi beban keluarga pasien.
Apa Itu Cerebral Palsy dan Gejalanya
Cerebral palsy adalah sekelompok gangguan permanen yang memengaruhi kemampuan bergerak, keseimbangan, dan postur tubuh akibat perkembangan otak yang tidak normal atau cedera pada otak yang sedang berkembang. Kondisi ini umumnya muncul sebelum kelahiran, saat persalinan, atau pada periode awal kehidupan bayi.
Gejala cerebral palsy bervariasi antarindividu dan dapat mencakup kesulitan mengendalikan gerakan otot, otot kaku atau lemas, gangguan keseimbangan, keterlambatan perkembangan motorik seperti duduk atau berjalan, serta gerakan tidak terkendali atau tremor. Sebagian pasien juga mengalami kesulitan berbicara, menelan, atau masalah lain seperti gangguan penglihatan dan epilepsi.
Penanganan cerebral palsy umumnya melibatkan tim multidisipliner yang memberikan terapi fisik, terapi okupasi, intervensi wicara, penanganan medis untuk komplikasi, serta penyediaan alat bantu ortopedik yang disesuaikan. Akses terhadap tim dan fasilitas yang memadai sangat menentukan kualitas hidup dan perkembangan jangka panjang pasien.
Lucy menegaskan bahwa memperluas layanan tumbuh kembang anak bukan sekadar menambah jumlah dokter, melainkan juga membangun jaringan layanan komprehensif yang mencakup terapi, rehabilitasi, dan pembuatan alat bantu. Dengan langkah tersebut, diharapkan lebih banyak keluarga yang dapat memperoleh penanganan tepat waktu dan meningkatkan kesejahteraan anak-anak berkebutuhan khusus.