Gaya Hidup

PKBTS: Jangan biarin AI gantikan karakter siswa!

Jakarta, Maret.id — Pengurus Pusat Perkumpulan Keluarga Besar Taman Siswa (PP PKBTS) mengingatkan perlunya menyeimbangkan pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan dengan penguatan pendidikan karakter.
Ketua Umum PP PKBTS, Muhammad Munawaroh, menegaskan AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan rujukan utama yang menggantikan proses berpikir mandiri siswa.

Kewaspadaan terhadap Ketergantungan AI

Munawaroh memperingatkan bahwa tanpa pendampingan yang tepat, penggunaan AI berpotensi membuat peserta didik bergantung pada teknologi dan mengurangi kemampuan berpikir kritis.
Ia menyampaikan kekhawatiran tersebut dalam perbincangan bersama Pro3 RRI pada Senin, 29 Juni 2026, seraya menekankan bahwa dampak sosial dari ketergantungan teknologi harus diantisipasi sejak dini.

Relevansi Ajaran Ki Hajar Dewantara

Organisasi itu menilai konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara melalui sistem Among masih relevan untuk menghadapi era digital karena menekankan pendekatan manusiawi dan perkembangan sesuai potensi anak.
Menurut Munawaroh, prinsip-prinsip Taman Siswa dapat menjadi landasan untuk menanamkan budi pekerti sehingga teknologi tidak menggantikan peran etika dan karakter.

Strategi Digitalisasi dan Penyebaran Nilai

Dalam Kongres PKBTS ke-20 yang mengusung tema Bergerak Bersama Menuju Pendidikan Kebangsaan yang Lebih Baik dengan Menerapkan Panca Dharma Taman Siswa, organisasi akan merancang program penyebarluasan ajaran Ki Hajar Dewantara kepada masyarakat.
Salah satu langkah strategis adalah memanfaatkan media digital seperti TikTok, Instagram, YouTube, hingga podcast agar nilai-nilai pendidikan lebih mudah diterima oleh generasi muda yang cenderung memilih konten visual.

PKBTS juga berencana mengembangkan film pendidikan sebagai media pembelajaran yang dapat digunakan guru di kelas.
Selain itu, organisasi menyiapkan program pelatihan Kader Guru Bangsa untuk meningkatkan pemahaman pendidik terhadap ajaran Taman Siswa dan metode pengajaran yang sesuai zaman.

Munawaroh menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya tanggung jawab sekolah, melainkan juga keluarga dan masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa pendidikan berlangsung di tiga arena yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat, sehingga penguatan karakter perlu dilakukan secara terintegrasi oleh semua pihak.

Penerapan teknologi harus disertai dengan kurikulum dan kebijakan yang menekankan etika penggunaan AI serta kemampuan berpikir kritis.
Para pendidik perlu dibekali kompetensi literasi digital dan strategi pedagogis yang menjaga keseimbangan antara kecakapan akademik dan pembentukan budi pekerti.

PKBTS berharap kolaborasi lintas pihak dapat mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap teknologi namun tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan.
Organisasi ini juga mengajak pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas untuk bersama-sama merancang kebijakan yang melindungi anak dari potensi dampak negatif teknologi tanpa menutup peluang inovasi dalam proses belajar.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button