Peluncuran Misi Penyelamatan Satelit Swift Ditunda, Cuaca Ngambek!

Jakarta, Maret.id — Peluncuran pesawat ruang angkasa robotik LINK yang dirancang untuk menaikkan orbit Observatorium Neil Gehrels Swift milik NASA resmi ditunda karena kondisi cuaca yang tidak mendukung.
Penundaan dan Jadwal Ulang
Peluncuran awalnya dijadwalkan pada Selasa, 30 Juni 2026 namun dibatalkan pada saat-saat akhir karena prakiraan cuaca di lokasi peluncuran menunjukkan risiko yang tinggi. Upaya peluncuran berikutnya direncanakan paling cepat pada Rabu, 1 Juli 2026 pukul 21.43 waktu setempat (UTC+12), yang setara dengan 05.43 EDT.
Keputusan penundaan diambil demi keselamatan operasi dan integritas misi, menurut keterangan tim berwenang. Langkah ini mengikuti prosedur standar untuk peluncuran antariksa di mana cuaca buruk dapat membahayakan roket dan muatannya.
Roket, Lokasi, dan Manuver Misi
Misi LINK akan menggunakan roket Pegasus XL milik Northrop Grumman yang diluncurkan dari Atol Kwajalein di Kepulauan Marshall dengan metode peluncuran udara. Setelah penempatan awal, kapal layanan LINK akan bermanuver mendekati satelit Swift, melakukan penangkapan dan kemudian secara bertahap menaikkan ketinggian orbit selama beberapa bulan.
Menurut perencanaan teknis, operasi pengangkatan orbit akan berlangsung bertahap untuk memastikan keamanan operasi kedekatan dan mencegah kerusakan pada satelit yang dipelihara. Pendekatan ini memanfaatkan teknologi pendorong ion yang efisien untuk perubahan orbit jangka panjang.
Tujuan Misi dan Spesifikasi LINK
Tujuan utama misi adalah mencegah Neil Gehrels Swift kembali memasuki atmosfer Bumi pada akhir tahun ini dengan meningkatkan altitudenya sehingga Hambatan atmosfer yang meningkat akibat aktivitas matahari tidak menyebabkan penurunan orbit yang tak terkendali. Swift merupakan observatorium angkasa yang berperan penting bagi studi ledakan sinar gamma dan fenomena kosmik lainnya, sehingga upaya penyelamatan dianggap bernilai ilmiah tinggi.
Pesawat antariksa LINK memiliki bobot sekitar 399 kilogram dan tinggi sekitar 1,5 meter, dengan panel surya yang membentang hampir 6 meter untuk memasok daya. Sistem propulsi terdiri atas tiga pendorong ion dan perangkat mekanis yang meliputi tiga lengan robotik untuk menangkap dan berinteraksi dengan struktur satelit.
Risiko Atmosfer dan Dampak Aktivitas Matahari
Atmosfer Bumi, meski tipis pada ketinggian orbit rendah, menimbulkan hambatan aerodinamis yang secara bertahap mengurangi ketinggian orbit semua pesawat tanpa sistem propulsi yang berfungsi. Gelombang aktivitas matahari yang meningkat baru-baru ini memperbesar efek drag ini, sehingga Swift berisiko mengalami penurunan orbit lebih cepat dari yang diperkirakan.
Alih-alih membiarkan satelit penting itu kembali terbakar di atmosfer, NASA memanfaatkan kesempatan untuk mempercepat pengembangan layanan servis satelit komersial yang dapat memperpanjang masa operasi aset antariksa. Langkah ini juga dipandang sebagai langkah strategis untuk mendorong ekosistem industri layanan antariksa di Amerika Serikat.
Tim misi akan terus memantau kondisi cuaca dan kesiapan teknis sebelum menetapkan jendela peluncuran berikutnya, dan publik akan diberi informasi lebih lanjut jika ada perubahan jadwal.