Relief Sri Tanjung Bikin Kepo!

Jakarta, Maret.id — Candi Surowono di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, kembali menarik perhatian wisatawan karena relief Sri Tanjung yang tersimpan pada dinding candi itu.
Relief tersebut menjadi rujukan utama pengunjung yang ingin memahami warisan budaya dan legenda lokal yang mengiringi sejarah situs purbakala ini.
Relief Sri Tanjung sebagai Daya Tarik
Relief Sri Tanjung menggambarkan kisah legenda tentang kesetiaan seorang istri kepada suaminya yang telah menjadi bagian dari khazanah cerita rakyat Jawa Timur.
Cerita pada relief itu juga sering dikaitkan dengan asal-usul penamaan daerah tertentu di Jawa Timur dan menjadi magnet bagi pengunjung yang tertarik pada cerita budaya lokal.
Relief yang memperlihatkan tokoh yang digambarkan menaiki seekor ikan membuat masyarakat setempat mempertahankan tradisi budidaya ikan hias di seputar kawasan candi.
Keterkaitan simbolik antara relief dan pola kehidupan warga menjadi aspek menarik yang turut menghidupkan kunjungan wisata edukatif ke situs ini.
Upaya Pengelolaan dan Edukasi
Pengelola Candi Surowono menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi pengunjung yang datang dengan tujuan edukasi sejarah dan budaya.
Setiap rombongan yang berkunjung kerap didampingi oleh petugas agar tujuan kunjungan dapat tersalurkan dan informasi yang diberikan sesuai dengan konteks situs.
“Kami selalu mendampingi pengunjung. Kalau tujuan mereka ke sini memang untuk belajar sejarah, kami akan memberikan informasi sebaik mungkin,” ujar Nur Ali, pengelola Candi Surowono.
Pendampingan ini dinilai penting untuk memastikan generasi muda, terutama siswa sekolah, memahami nilai sejarah peninggalan leluhur.
Kunjungan rombongan pelajar sering kali bertujuan menyelesaikan tugas sekolah atau melakukan observasi sejarah, sehingga pengelola menyiapkan bahan penjelasan yang sederhana dan mudah dipahami.
Pentingnya edukasi dipandang sebagai upaya menjaga kesadaran kolektif terhadap nilai-nilai budaya yang terkandung dalam situs cagar budaya ini.
Pelestarian dan Fasilitas
Kawasan Candi Surowono berdiri pada lahan yang relatif kecil, sekitar satu hektare, sehingga pengembangan fasilitas pendukung wisata terbatas oleh ketersediaan ruang dan kedekatan dengan permukiman.
Kondisi tersebut mendorong pengelola untuk memprioritaskan upaya pelestarian dan penyampaian informasi ketimbang pembangunan fasilitas komersial yang luas.
Perawatan fisik situs dilakukan secara berkala, termasuk pembersihan lumut dan tanaman pengganggu agar relief batu tetap terjaga dari pengikisan.
Upaya pemeliharaan ini bertujuan mempertahankan keaslian struktur batu dan memastikan generasi mendatang masih dapat melihat detail relief dengan baik.
Akses ke candi ini gratis bagi pengunjung, namun pengelola mewajibkan pengunjung mengisi buku tamu sebagai bagian dari pendataan kunjungan.
Kebijakan tanpa tarif masuk ini diharapkan mempermudah akses masyarakat luas untuk belajar dan mengapresiasi warisan budaya setempat.
Lokasi Candi Surowono berada di Desa Canggu, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, dan tampak jelas dari pandangan udara sebagai area bersejarah yang relatif kompak.
Keterbatasan lahan tidak mengurangi nilai estetika dan historis candi yang tetap menjadi rujukan penting dalam kajian arkeologi dan budaya lokal.
Pengelola berharap dukungan dari berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas interpretasi di lokasi, misalnya melalui papan informasi, pemandu terlatih, atau materi digital yang menjelaskan konteks sejarah relief.
Inisiatif semacam itu dinilai mampu memperkaya pengalaman pengunjung tanpa perlu melakukan intervensi fisik yang besar pada kawasan candi.
Imbauan bagi Pengunjung
Pengunjung diimbau untuk menjaga sikap dan tidak menyentuh langsung relief guna mencegah kerusakan pada permukaan batu yang rentan.
Penghormatan terhadap situs sebagai warisan budaya dianggap krusial agar nilai-nilai sejarah tetap terjaga.
Waktu kunjungan yang direkomendasikan adalah pagi hari saat cuaca lebih bersahabat dan pengamatan terhadap relief serta struktur batu lebih nyaman.
Pengunjung yang datang untuk keperluan dokumentasi disarankan berkonsultasi terlebih dahulu dengan pengelola untuk mendapatkan arahan.
Dengan upaya pendampingan, perawatan rutin, dan akses terbuka tanpa biaya, Candi Surowono terus berupaya menjadi ruang belajar dan penghormatan terhadap warisan nenek moyang.
Relief Sri Tanjung tetap menjadi ikon yang mengundang rasa ingin tahu dan upaya pelestarian oleh komunitas setempat dan pengelola cagar budaya.