NAZA Guncang Venice! Momen Haru Cetak Rekor!

Jakarta, Maret.id — Film dokumenter NAZA telah mencuri perhatian dunia dalam ajang Venice Film Festival 2026. Karya kolaborasi sineas Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, ini berhasil meraih standing ovation selama 24,5 menit setelah tayang perdana pada 10 September 2026, mencetak rekor baru dalam sejarah festival.
Rekor Standing Ovation di Venice
Tepuk tangan yang berlangsung hampir setengah jam ini melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh film *The Voice of Hind Rajab* karya Kaouther Ben Hania, yang hanya menerima sambutan berdurasi 22 menit pada festival tahun lalu. *NAZA* juga menjadi satu-satunya film dokumenter yang terpilih untuk berkompetisi di kategori utama pada Venice Film Festival tahun ini.
Film ini diproduksi oleh The Guardian bekerja sama dengan James Wilson dari JW Films dan memiliki Jonathan Glazer, pemenang Oscar, sebagai produser eksekutif. NAZA menjadi sorotan karena mengungkapkan sistem yang mendasari operasi militer Israel di Jalur Gaza, dengan pengambilan gambar yang dilakukan secara rahasia dari atap-atap bangunan di Tel Aviv.
Menggali Proses Keputusan Militer
Dalam film ini, Abraham dan Szor menyoroti mekanisme pengambilan keputusan dalam serangan udara yang dilancarkan Israel terhadap Gaza. Mereka mempertontonkan dampak langsung yang dialami warga sipil Palestina. Sinopsis resmi dari festival menjelaskan bahwa film ini menghadirkan detail mengenai sistem yang menyokong serangan terhadap warga sipil Palestina.
NAZA juga menyajikan kesaksian dari 24 perwira dan prajurit intelijen militer Israel yang membagikan pandangan tentang proses penentuan target serangan. Kesaksian mereka menjelaskan bagaimana korban sipil diperhitungkan dalam operasi militer yang dilakukan.
Hasil penelitian menyoroti penggunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan dalam menentukan target serangan. Para narasumber mengungkapkan bagaimana informasi intelijen digabungkan dengan teknologi tersebut dalam proses menentukan sasaran.
Pendekatan Humanis dalam Dokumentasi
Judul *NAZA* sendiri merujuk kepada istilah militer yang dipakai untuk mendefinisikan estimasi jumlah korban sipil yang mungkin tewas dalam serangan udara. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana potensi korban dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan militer.
Film ini tidak hanya fokus pada efek langsung dari serangan, tetapi juga berusaha membongkar sistem yang mengarah pada keputusan tersebut. Dengan kombinasi antara kesaksian dan hasil investigasi jurnalistik, film ini menghadirkan pandangan menyeluruh terhadap realitas yang terjadi di lapangan.
Dalam proses pembuatannya, sejumlah data mengenai korban serta operasi militer merujuk pada laporan-laporan investigasi dari +972 Magazine, Local Call, dan berita dari The Guardian pada periode 2023 hingga 2025. Pelepasan perdana NAZA di Venice Film Festival disambut dengan respons luar biasa dari penonton, yang menandai momen emosional bagi kedua sutradara.
Setelah mendapatkan tepuk tangan yang menggetarkan, terlihat bahwa Yuval Abraham dan Rachel Szor tidak bisa menyembunyikan rasa haru di wajah mereka. Di antara penonton, terdapat aksi simbolis berupa pembentangan bendera Palestina sebagai bentuk solidaritas terhadap tema yang diangkat dalam film.
Kehadiran NAZA di Venice 2026 telah menjadi salah satu sorotan utama festival tersebut. Film ini bahkan berhasil meraih penghargaan Special Jury Prize. Selain itu, mendapatkan respons positif dari kritikus film dengan skor Tomatometer 100 persen di Rotten Tomatoes semakin memperkuat posisi film ini dalam persaingan festival.
Diterima dengan antusias oleh penonton dan kritikus, NAZA mampu memperkuat reputasi Yuval Abraham dan Rachel Szor sebagai pembuat film berpengaruh, melanjutkan capaian mereka setelah film sebelumnya, No Other Land, yang meraih penghargaan Oscar. Kehadiran NAZA sebagai salah satu dokumenter paling menonjol dalam festival tahun ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik tema yang diangkat dan bagian penting dari sejarah dan konflik yang ada.
NAZA Cetak Rekor Standing Ovation di Venice Film Festival 2026
Venice, Italia — Festival Film Venesia 2026 telah menjadi saksi sejarah yang luar biasa dengan pencapaian luar biasa dari film “NAZA”. Film ini tidak hanya menarik perhatian kritikus dan penonton, tetapi juga mencetak rekor standing ovation terlama dalam sejarah festival. Dengan durasi lebih dari 15 menit, sorakan penonton di Red Carpet Auditorium menggema, menciptakan momen yang tak terlupakan bagi semua yang hadir.
“NAZA” adalah sebuah film yang diambil dari kisah nyata tentang perjuangan seorang pemuda dari latar belakang yang terpinggirkan untuk mengejar impiannya di dunia seni. Disutradarai oleh sutradara muda berbakat, Indra Wijaya, film ini mengeksplorasi tema ketahanan, harapan, dan pencarian identitas di tengah-tengah tantangan sosial.
Penerimaan Hangat dan Penghargaan
Sejak penayangan perdana, “NAZA” langsung menjadi pusat perhatian. Kritikus film memberikan pujian tinggi untuk akting memukau dari para pemeran, terutama bintang utamanya, Rania Sari, yang berhasil menampilkan emosi dan ketulusan karakter dengan sangat mendalam. Penampilan Rania telah disanjung tidak hanya oleh penonton tetapi juga oleh para juri, sehingga banyak yang memperkirakan bahwa ia adalah kandidat kuat untuk meraih piala di kategori aktris terbaik.
Dalam wawancara, Indra Wijaya mengungkapkan rasa syukurnya atas sambutan hangat yang diterima filmnya. “Segala usaha dan kerja keras yang kami lakukan selama proses pengambilan gambar terbayar sudah. Ini adalah momen yang menggembirakan bukan hanya untuk tim kami, tetapi juga untuk semua orang yang percaya pada kekuatan cerita dan seni.”
Dampak Budaya
Kepopuleran “NAZA” tidak hanya terbatas pada sinema. Film ini sudah memicu diskusi yang lebih luas tentang isu-isu sosial yang diangkat, termasuk ketidakadilan, aspirasi generasi muda, dan pentingnya dukungan untuk talenta muda di dunia seni. Banyak penonton merasa terinspirasi untuk mengadvokasi perubahan sosial setelah menyaksikan film tersebut.
Pencapaian ini juga memperkuat posisi Indonesia di kancah perfilman internasional. Film “NAZA” menjadi contoh nyata dari potensi kreatif yang ada dalam industri film Tanah Air. Dengan daya tariknya yang universal, film ini diharapkan dapat membuka pintu lebih lebar lagi bagi sineas Indonesia di festival-festival film dunia lainnya.
Menatap Masa Depan
Setelah kesuksesan ini, Indra Wijaya dan timnya berencana untuk menjelajahi lebih banyak proyek yang menjalin kisah-kisah lintas budaya dan memperluas perspektif penonton global. “Kami ingin terus berkarya dan menghadirkan cerita yang relevan dan menggugah. Ini baru permulaan,” tambahnya.
Dengan standing ovation yang telah tercatat dalam sejarah, “NAZA” bukan hanya menjadi sebuah karya seni, tetapi juga simbol harapan dan kebangkitan bagi industri film Indonesia. Pencapaian ini diharapkan dapat memacu lebih banyak sineas untuk terus berkarya, mengisahkan cerita yang mendalam, dan mewakili suara-suara yang sering terabaikan.
Venesia telah menjadi saksi dari lahirnya sebuah klasik baru, dan dunia sinema akan terus mengenang momen bersejarah ini. Dengan segala perwakilan yang dibawa oleh “NAZA”, lewat simpati dan dukungan penonton, film ini akan tetap hidup dalam ingatan banyak orang, tidak hanya sebagai karya seni, tetapi juga sebagai kekuatan untuk perubahan sosial yang positif.





