Kesehatan

Waspada Kanker Kolorektal: Strategi Nasional untuk Kesehatan Tubuh Anda

Jakarta, Maret.id — Kanker kolorektal telah menjadi salah satu ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Dengan lebih dari 1,9 juta kasus baru secara global setiap tahunnya, kanker ini menempati urutan ketiga sebagai jenis kanker yang paling umum di dunia. Data di Indonesia menunjukkan bahwa kanker usus besar berada di peringkat keempat dalam jumlah kasus dan merupakan penyebab kematian kelima akibat kanker, dengan lebih dari 19 ribu kematian setiap tahun. Keterlambatan diagnosis menjadi salah satu faktor utama tingginya angka kematian ini.

Gejala dan Pentingnya Deteksi Dini

Gejala dari kanker kolorektal sering kali tidak disadari oleh penderita pada tahap awal. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain perubahan pola buang air besar yang menetap, adanya darah dalam tinja, nyeri perut, penurunan berat badan yang drastis, serta anemia. Dalam hal ini, deteksi dini sangatlah penting untuk menekan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit ini.

Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, menekankan pentingnya langkah konkret dalam penanganan kanker kolorektal di Indonesia. Ia berkomitmen mendorong penerapan kebijakan skrining nasional yang bersifat terstruktur dan adil, dengan melibatkan pemerintah serta mitra internasional.

Strategi Skrining Nasional

Pendekatan skrining berbasis Fecal Immunochemical Test (FIT) dianggap sebagai solusi realistis untuk mengatasi masalah tersebut di tanah air. Prof. Ari menjelaskan bahwa metode ini memiliki berbagai keunggulan, termasuk biaya yang rendah, tidak invasif, dan mudah untuk diterapkan secara luas. Namun, tantangan terbesar yang dihadapi adalah tindak lanjut bagi pasien yang memiliki hasil positif, karena tingkat partisipasi untuk melakukan kolonoskopi masih perlu ditingkatkan.

Pengalaman dari negara lain menunjukkan bahwa program skrining terstruktur berbasis FIT dapat menurunkan angka kematian akibat kanker kolorektal hingga 35 persen dan mengurangi jumlah kasus kanker yang sudah memasuki stadium lanjut. Program ini didukung oleh sistem terintegrasi yang mencakup pemanggilan pasien, standar diagnosis, dan pengawasan kualitas layanan.

Menjawab Tantangan di Indonesia

Di Indonesia, beberapa tantangan yang dihadapi termasuk keterbatasan fasilitas kolonoskopi dan luasnya wilayah geografis. Oleh karena itu, sebuah strategi bertahap dianggap paling efektif. Ini dimulai dengan menerapkan skrining di layanan kesehatan primer, memperkuat sistem rujukan digital, serta menerapkan stratifikasi risiko yang mempertimbangkan usia, riwayat keluarga, dan pola hidup.

Upaya-upaya ini diharapkan mampu mempercepat deteksi dini dan menekan beban kanker kolorektal di seluruh Indonesia, sehingga bisa memperbaiki angka survival dan kualitas hidup pasien kanker kolorektal di Tanah Air.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button