Dari Banten ke Seluruh Dunia: Terapi Bekam Tanduk yang Bertahan dan Efektif di Era Medis Modern

JAKARTA, Maret.id — Praktik bekam dengan media tanduk kerbau, sebuah cabang pengobatan tradisional yang berasal dari wilayah Banten, kembali menarik perhatian publik internasional meskipun perkembangan teknologi medis modern terus melaju. Metode yang kerap disebut “bekam tanduk” ini dipraktikkan oleh sejumlah ahli waris tradisi, salah satunya adalah Sheik Muhammad Zaenal Arifin — praktisi asal Banten yang selama lebih dari empat dekade mengembangkan tekniknya hingga menjangkau pasien di berbagai belahan dunia, termasuk di London dan beberapa negara Asia serta Timur Tengah.
Sejarah dan akar budaya bekam tanduk
Bekam sendiri memiliki jejak panjang dalam berbagai kebudayaan, mulai dari praktik hijama dalam tradisi Timur Tengah hingga variasi lokal di Nusantara. Di Banten, penggunaan tanduk kerbau sebagai alat bekam menjadi simbol kearifan lokal yang menggabungkan unsur tradisi agraris, spiritualitas pesantren, dan praktik pengobatan masyarakat. Secara historis, teknik ini berkembang sebagai respons terhadap keterbatasan akses layanan medis formal pada masa lalu dan menjadi bagian dari ritual perawatan kesehatan yang dipraktikkan lintas generasi.
Prinsip kerja, klaim manfaat, dan praktik kontemporer
Secara teknis, bekam bertujuan menciptakan tekanan negatif di permukaan kulit untuk merangsang aliran darah lokal, mengurangi stagnasi, dan memicu proses penyembuhan. Versi dengan tanduk kerbau memanfaatkan struktur alami tanduk untuk menutup area yang ingin diberi hisapan. Klaim atas manfaatnya beragam: dari membantu mengatasi keluhan muskuloskeletal, gangguan peredaran darah, hingga klaim lebih luas seperti dukungan pada pasien penyakit kronis. Di era sekarang, banyak pasien memilih terapi ini sebagai pelengkap (adjuvan) pengobatan modern, mencari pendekatan holistik yang mencakup aspek fisik, psikologis, dan spiritual.
Jejak internasional dan profil praktisi
Praktisi seperti Sheik Arifin mencerminkan bagaimana pengetahuan lokal dapat menyebar melalui migrasi, jaringan diaspora, dan minat global terhadap pengobatan komplementer. Latar belakangnya yang panjang dalam praktik dan pengalaman menangani pasien dari berbagai negara turut memperkuat reputasinya di komunitas internasional. Pengakuan semacam ini tidak jarang muncul di kota-kota besar seperti London, di mana permintaan terhadap metode alternatif kerap bertumpu pada kombinasi keahlian tradisional dan akses ke komunitas pasien internasional.
Tantangan ilmiah, etika, dan regulasi
Meski popularitasnya meluas, terapi bekam menghadapi sejumlah tantangan signifikan dari sisi ilmiah dan regulasi. Bukti klinis yang kuat berupa uji acak terkontrol (RCT) untuk mendukung klaim efektifitas pada kondisi serius seperti penyakit jantung, kanker, atau gangguan ginjal masih terbatas. Para peneliti memandang beberapa mekanisme fisiologis potensial — seperti peningkatan perfusi lokal dan modulasi respon inflamasi — sebagai hipotesis kerja, namun dibutuhkan studi tersier yang lebih komprehensif. Di sisi lain, ada risiko praktis yang perlu diwaspadai: infeksi, luka kulit, atau komplikasi akibat prosedur yang tidak higienis. Untuk itu, banyak ahli mendorong pengaturan praktik bekam melalui sertifikasi, standar kebersihan yang ketat, dan integrasi dengan layanan kesehatan primer bila digunakan sebagai terapi tambahan.
Analisis ini menempatkan bekam tanduk dalam posisi yang kompleks: sebagai warisan budaya yang membawa nilai terapeutik subjektif dan kenyamanan bagi sebagian pasien, sekaligus menuntut pembuktian ilmiah serta pengawasan profesional yang lebih baik. Kebijakan yang arif sebaiknya mengakui nilai sosial-budaya praktik tradisional tanpa mengabaikan prinsip keselamatan pasien dan bukti medis. Bagi masyarakat luas, langkah bijak adalah memandang terapi ini sebagai pelengkap, bukan pengganti, pengobatan berbasis bukti, serta memilih praktisi yang terlatih dan bekerja dalam kerangka standar kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan.





