Kemenkes Intensifkan Komunikasi Publik untuk Melawan Hoaks dan Mencegah Anak Zero Dose

JAKARTA, Maret.id — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat strategi komunikasi publik sebagai bagian dari upaya menjangkau dan menurunkan angka anak “zero dose” — istilah untuk anak yang belum menerima dosis pertama vaksin DTP (difteri, tetanus, pertusis). Langkah ini menekankan pentingnya kombinasi antara perluasan cakupan layanan imunisasi primer dan peningkatan kualitas komunikasi untuk membangun kepercayaan masyarakat, sekaligus menangkal informasi keliru yang beredar di tengah publik.
Latar Belakang: Anak Zero Dose dan Imunisasi DTP
Istilah “zero dose” telah digunakan secara internasional untuk mengidentifikasi anak-anak yang sama sekali belum menerima vaksin dasar, yang menjadi indikator penting ketimpangan akses layanan kesehatan. Vaksin DTP termasuk dalam imunisasi dasar yang melindungi terhadap penyakit berbahaya seperti difteri, tetanus, dan pertusis. Kekurangan cakupan vaksinasi tidak hanya meningkatkan risiko kasus lokal dan wabah, tetapi juga mencerminkan celah dalam sistem pelayanan kesehatan primair dan program kesejahteraan anak. Pandemi COVID-19 sebelumnya memperlihatkan bagaimana gangguan layanan dan perubahan perilaku masyarakat dapat menimbulkan penurunan cakupan imunisasi di berbagai wilayah, sehingga perhatian terhadap anak zero dose kembali meningkat di tingkat kebijakan dan program.
Strategi Komunikasi Publik dan Pendekatan Lapangan
Menurut Indah S. Widyahening, Tenaga Ahli Bidang Integrasi Layanan Primer dan Promosi Kesehatan Kemenkes, penanganan anak zero dose memerlukan komunikasi publik yang jelas, konsisten, dan mudah dipahami. Pendekatan ini meliputi penyederhanaan pesan kesehatan, penggunaan bahasa lokal, serta pemanfaatan kanal komunikasi yang dekat dengan masyarakat—seperti kader posyandu, bidan desa, tokoh agama, dan pemimpin komunitas. Selain itu, strategi lapangan mencakup integrasi kegiatan imunisasi dengan layanan kesehatan primer lainnya dan penjaringan aktif keluarga melalui kunjungan rumah serta pelaksanaan layanan imunisasi terjadwal di pusat-pusat pelayanan yang mudah dijangkau.
Metode pendidikan perilaku kesehatan (social and behavior change communication/SBCC) menjadi kunci untuk mengubah persepsi dan mengatasi keraguan terhadap vaksin. Di samping itu, penggunaan data pendaftaran bayi dan sistem pencatatan elektronik membantu memetakan kelompok yang belum tersentuh layanan sehingga intervensi dapat diarahkan secara tepat sasaran.
Hambatan Informasi, Hoaks, dan Upaya Membangun Kepercayaan
Salah satu tantangan utama yang diidentifikasi adalah arus informasi yang tidak akurat, termasuk hoaks yang menimbulkan ketakutan dan keraguan pada orang tua. Informasi keliru ini dapat menyebar cepat melalui media sosial dan jaringan komunikasi informal. Untuk itu, Kemenkes menekankan pentingnya respons cepat terhadap misinformasi, dengan menyediakan fakta yang reliabel, transparan, dan mudah diakses. Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam komunikasi risiko menjadi bagian dari strategi untuk menjalin dialog yang konstruktif dengan keluarga, memberikan penjelasan ilmiah sekaligus empati terhadap kekhawatiran masyarakat.
Membangun kepercayaan tidak cukup hanya dengan penyampaian data; diperlukan pengalaman layanan yang positif—misalnya keramahan petugas, ketersediaan vaksin, dan proses layanan yang tidak berbelit. Kehadiran layanan imunisasi yang stabil dan berkualitas di fasilitas kesehatan primer dapat memperkuat keyakinan publik bahwa imunisasi aman dan bermanfaat bagi anak.
Praktik Lapangan dan Rekomendasi Kebijakan
Seminar Lapangan Tematik dan pembahasan strategi penjangkauan anak zero dose yang digelar di Kota Bandung pada 11 Mei 2026 merupakan bagian dari upaya berbagi praktik baik antar daerah. Kegiatan semacam ini memungkinkan pertukaran pengalaman tentang model terbaik: pelaksanaan pos imunisasi di lokasi strategis, penggunaan data mikro untuk identifikasi keluarga, dan skema kolaborasi lintas sektor seperti pendidikan dan dinas sosial untuk menjangkau keluarga rentan.
Untuk memastikan penurunan pasti pada angka zero dose, beberapa langkah kebijakan direkomendasikan: penguatan sistem informasi imunisasi yang terintegrasi, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di tingkat desa, dukungan logistik agar vaksin tersedia merata, serta program komunikasi berkelanjutan yang melibatkan tokoh lokal dan organisasi masyarakat sipil. Selain itu, evaluasi berkala terhadap program dan penyesuaian intervensi berdasarkan bukti lapangan sangat penting untuk efektivitas jangka panjang.
Analisis ahli kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa pendekatan yang menggabungkan perluasan fisik layanan dan intervensi komunikasi akan lebih efektif dibandingkan strategi yang hanya mengandalkan salah satu aspek. Misalnya, kampanye vaksinasi massal tanpa dialog yang memadai dapat meningkatkan cakupan sementara tetapi gagal mempertahankan kepercayaan jangka panjang. Sebaliknya, dialog yang intens tanpa akses layanan yang memadai juga akan menemui batas.
Dengan menggabungkan pengalaman lapangan, bukti ilmiah, dan pendekatan komunikasi yang adaptif, pemerintah berupaya memastikan tidak ada anak yang tertinggal dari layanan kesehatan dasar, termasuk imunisasi. Keberhasilan agenda ini dipengaruhi oleh sinergi antar-pemangku kepentingan mulai dari pusat hingga desa, dukungan anggaran yang memadai, serta keterlibatan aktif komunitas dalam menjaga kesehatan anak sebagai prioritas bersama.





