Masyarakat Pesisir Jawa Tengah Diminta Waspada Aktivitas Stabil Gunung Slamet

Pemalang, Maret.id — Aktivitas Gunung Slamet, gunung berapi tertinggi di Jawa Tengah, menunjukkan tren yang relatif stabil. Hal ini disampaikan oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) setelah melakukan pemantauan suhu solfatara di kawah menggunakan teknologi drone termal.
Analisis Stabilitas Suhu
Hasil pengukuran suhu solfatara menunjukkan fluktuasi antara 407,2 hingga 478,7 derajat Celsius. Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengungkapkan bahwa suhu tersebut tidak menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. “Data menunjukkan tidak ada eskalasi aktivitas vulkanik yang berkelanjutan selama periode pemantauan dari 4 April hingga 3 Juni 2026,” jelasnya pada konferensi pers yang berlangsung baru-baru ini.
Penyesuaian Radius Aman
Meskipun suhu solfatara menunjukkan stabilitas, Badan Geologi mengambil langkah hati-hati dengan memperkecil radius aman bagi pendaki dan masyarakat. Radius aman yang awalnya ditetapkan tiga kilometer kini dikurangi menjadi dua kilometer dari pusat kawah. Meski begitu, status Gunung Slamet tetap berada pada Level II atau Waspada. Beberapa parameter vulkanik masih belum pulih sepenuhnya ke kondisi dasar pasca-perubahan yang terjadi pada bulan April lalu.
Imbauan untuk Waspada
Badan Geologi mengingatkan kepada masyarakat, pendaki, dan wisatawan agar tetap mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan. “Kami menghimbau agar tidak beraktivitas di dalam radius dua kilometer dari pusat kawah untuk memastikan keselamatan bersama,” tambah Lana. Pemerintah daerah, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), juga diharapkan terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Slamet di Desa Gambuhan, Kabupaten Pemalang.
Pemantauan Berkala
Langkah pemantauan yang dilakukan diharapkan dapat mengantisipasi kemungkinan perubahan aktivitas vulkanik di masa yang akan datang. Hal ini penting untuk menjaga keselamatan masyarakat dan memastikan bahwa kondisi Gunung Slamet tetap terpantau dengan baik. Sebab, dinamika suhu kawah dan pasokan energi dari dalam bumi memiliki potensi memengaruhi aktivitas gunung secara keseluruhan.
Kesehatan dan keselamatan masyarakat adalah prioritas utama dalam menanggapi perubahan alam ini. Kewaspadaan yang tinggi, paired dengan kebijakan yang tepat, akan membantu mencegah risiko yang mungkin muncul akibat aktivitas vulkanik di Gunung Slamet.
