Lokal

Gubernur Sulteng Imbau Warga Tetap Tenang Pasca Gempa M6,7

Palu, Maret.id — Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menyatakan bahwa banyak warga yang terkena dampak gempa bumi magnitudo 6,7 masih merasa takut untuk kembali tinggal di rumah mereka. Hingga kini, banyak yang memilih untuk bertahan di tenda-tenda darurat yang didirikan di sekitar permukiman mereka setelah gempa mengguncang Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026.

Keadaan Pascagempa

Usai meninjau langsung lima desa di Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, Anwar Hafid mengungkapkan bahwa masyarakat menginginkan tenda sebagai kebutuhan utama, karena ketakutan berlama-lama di dalam rumah. Terlebih lagi, banyak sumber air bersih yang tertutup longsor, sehingga air minum menjadi kebutuhan mendesak lainnya.

“Selain tenda, mereka juga membutuhkan air bersih, obat-obatan, dan selimut untuk anak-anak,” jelas Anwar. Kunjungan tersebut tidak hanya mendengar aspirasi warga, tetapi juga mengagendakan rapat bersama kepala desa.

Kebutuhan Mendesak

Hasil pertemuan dengan para kepala desa mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang mencakup air bersih, tenda darurat, obat-obatan, dan selimut. Ketersediaan air bersih menjadi prioritas karena sejumlah sumber air terhalang oleh material longsor akibat bencana.

Di antara lima desa yang terdampak, Desa Kamarora B tercatat mengalami kerusakan paling parah. Sebagai contoh nyata dari trauma pascagempa, seorang ibu terpaksa melahirkan di tenda darurat karena ketakutan untuk kembali ke rumah. Sebagai respon cepat, Pemprov Sulawesi Tengah mempersiapkan 550 unit tenda terpal, yang melebihi kebutuhan saat ini untuk antisipasi jika situasi mulai berkembang.

Program Bantuan

Bantuan lain yang akan disalurkan meliputi selimut dan tenda portabel. Pemerintah juga menyiapkan sekitar 650 paket sembako untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak.

Data sementara menunjukkan bahwa lebih dari 550 kepala keluarga mengalami kerusakan pada tempat tinggal mereka. Walaupun terdampak, banyak warga memilih untuk tidak mengungsi secara kolektif, demi menjaga keamanan harta benda mereka. Sebagai langkah lanjutan, pemerintah sedang melakukan asesmen terhadap kondisi rumah warga untuk menentukan tingkat kerusakan, baik yang tergolong ringan maupun berat.

Menghadapi Gelombang Susulan

Anwar Hafid juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan, meskipun tidak perlu panik. Menurut informasi dari BMKG, intensitas gempa susulan menunjukkan tren melemah dibandingkan dengan peristiwa awal pada 16 Juni lalu.

“Saya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memperhatikan situasi saat beraktivitas. Namun, berdasarkan informasi dari BMKG, gempa susulan semakin melemah dan diharapkan segera berakhir,” tuturnya.

Dengan demikian, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sangat penting dalam menghadapi situasi sulit ini. Diharapkan, dukungan yang diberikan dapat membantu masyarakat untuk pulih dan kembali ke kehidupan normal secepat mungkin.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button