NTT Gelar Peta Jalan Dekarbonisasi untuk Sektor Ketenagalistrikan

Kupang, Maret.id — Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, telah menegaskan pentingnya penyusunan peta jalan dekarbonisasi di sektor ketenagalistrikan sebagai langkah strategis untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2050. Upaya ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan energi dan dampak nyata yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.
Pernyataan ini disampaikan Melki dalam acara Kickoff Meeting Studi Roadmap Dekarbonisasi Sektor Ketenagalistrikan Nusa Tenggara Timur menuju NZE 2050, yang berlangsung pada Kamis, 2 Juli 2026, di Kupang. Ia menekankan bahwa perubahan iklim merupakan tantangan global yang dampaknya sudah dirasakan di seluruh wilayah NTT. Oleh karena itu, pembangunan ke depan harus memprioritaskan aspek keberlanjutan lingkungan.
Dampak Perubahan Iklim di NTT
Melki mengungkapkan bahwa dampak perubahan iklim di NTT mulai dapat dirasakan, seperti musim kemarau yang semakin panjang serta meningkatnya ancaman terhadap sektor pertanian dan perikanan. Hal ini tentunya turut mempengaruhi ketahanan pangan dan meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.
Sementara itu, kebutuhan energi di NTT terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, serta pengembangan sektor industri dan pariwisata. Gubernur Melki menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan energi ini melalui sistem ketenagalistrikan yang andal dengan emisi karbon yang rendah.
Komitmen NTT untuk Net Zero Emission 2050
NTT telah menetapkan visi Net Zero Emission 2050 sebagai komitmen untuk membangun daerah yang rendah karbon dan berketahanan terhadap perubahan iklim. Dalam peta jalan dekarbonisasi, pemerintah daerah berharap dapat mencakup kondisi ketenagalistrikan saat ini, proyeksi kebutuhan listrik, serta potensi energi terbarukan.
Melki menyoroti potensi besar NTT dalam pengembangan energi bersih dari sumber matahari, air, angin, dan panas bumi. Ia menyebutkan Pulau Sumba sebagai contoh, di mana tenaga surya dan mikrohidro sedang dimanfaatkan, menjadikannya pelopor dalam transisi energi di Indonesia.
Peluang dan Tantangan Energi Bersih
Penggunaan sumber daya energi lokal tidak hanya meningkatkan bauran energi terbarukan, tetapi juga memperluas akses listrik ke daerah terpencil dan membuka peluang investasi hijau. Hal ini diharapkan akan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah, dan memperkuat ketahanan energi.
Gubernur Melki berharap peta jalan ini tidak hanya menjadi pedoman dalam penyusunan kebijakan sektor ketenagalistrikan, tetapi juga akan menjadi dasar untuk menarik investasi dalam energi bersih. Dengan demikian, diharapkan ada percepatan pemanfaatan energi terbarukan serta peningkatan akses listrik berkualitas yang pada akhirnya dapat memperkuat daya saing ekonomi NTT menuju pembangunan yang hijau, tangguh, dan berkelanjutan.
KLARIFIKASI: Diskusi mengenai peta jalan dekarbonisasi ini sangat relevan mengingat situasi global saat ini yang semakin mendesak. Persiapan NTT untuk beradaptasi dan berkontribusi terhadap perubahan iklim adalah langkah yang sangat penting tidak hanya untuk daerah tersebut, tetapi juga untuk planet kita secara keseluruhan.
