Lokal

Waspada! Aktivitas Gunung Dukono Meningkat, Apa yang Harus Dilakukan Warga?

Jakarta, Maret.id — Aktivitas vulkanik Gunung Dukono di Maluku Utara saat ini dalam kondisi tinggi dan berstatus Level II atau Waspada. Hal ini disampaikan oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, yang terus memantau kondisi terkini dari gunung berapi tersebut.

Erupsi dan Dampaknya

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengungkapkan bahwa Gunung Dukono mengalami erupsi pada Kamis, 12 Mei 2026, pukul 07.12 WIT. Kolom abu yang dihasilkan mencapai ketinggian sekitar 3.500 meter di atas puncak gunung, dengan warna kelabu hingga hitam dan intensitas yang cukup tebal. Arah sebaran abu condong ke barat laut, yang berpotensi berdampak pada pemukiman di sekitar Kota Galela.

Lana mengingatkan bahwa hujan abu dapat mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas sehari-hari, termasuk transportasi serta aktivitas bersih-bersih. “Masyarakat diimbau untuk memperhatikan potensi risiko ini,” katanya dalam konferensi pers terbaru.

Aktivitas Erupsi yang Terus Meningkat

Badan Geologi telah mencatat bahwa dari rentang waktu 9 hingga 14 Mei 2026, tercatat rata-rata 48 kejadian erupsi per hari dari Gunung Dukono. Tinggi kolom abu yang teramati bervariasi antara 600 meter hingga 4.300 meter. Sebelumnya, pada 8 Mei 2026, Gunung Dukono sempat memunculkan erupsi besar dengan ketinggian kolom abu mencapai 10.000 meter.

Data menunjukkan bahwa meningkatnya aktivitas ini mengharuskan masyarakat dan wisatawan untuk mewaspadai kondisi sekitar. “Kami merekomendasikan kepada masyarakat, wisatawan, dan pendaki untuk tidak beraktivitas dalam radius empat kilometer dari Kawah Malupang Warirang, yang merupakan titik pusat erupsi,” tambahnya.

Koordinasi Antara Pemerintah dan Masyarakat

Dalam menghadapi situasi ini, Lana juga menyerukan agar pemerintah daerah, bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Maluku Utara dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara, terus berkoordinasi. Ini penting untuk memastikan bahwa semua langkah antisipatif bisa dilakukan, terutama kepada Pos Pengamatan Gunung Api Dukono di Desa Mamuya.

“Kami mengimbau masyarakat untuk selalu dalam keadaan siaga, terutama ketika hujan lebat yang dapat memicu aliran lahar. Sungai Mamuya, Sungai Mede, dan Sungai Tauni merupakan daerah yang harus diwaspadai karena berhubungan langsung dengan puncak Gunung Dukono,” tegas Lana.

Dengan perkembangan situasi yang cepat, masyarakat diharapkan untuk tetap terpadu informasi dan peka terhadap petunjuk dari pihak berwenang. Keselamatan adalah prioritas utama, dan langkah-langkah pencegahan perlu diambil untuk menghindari dampak lebih lanjut dari aktivitas vulkanik ini.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button