Kenaikan Harga Bawang Merah dan Minyak Goreng Bikin Warga Tangsel Merogoh Kocek Lebih Dalam!

Tangerang Selatan, Maret.id — Kenaikan harga bawang merah dan minyak goreng subsidi Minyakita telah menekan belanja warga di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Harga bawang merah melonjak drastis dalam dua hari terakhir, menyebabkan kepanikan di kalangan pedagang dan pembeli di pasar tradisional.
Lonjakan Harga Bawang Merah
Dalam pantauan di Pasar Serpong, harga bawang merah saat ini mencapai Rp60 ribu per kilogram. Sebelumnya, komoditas ini hanya dijual antara Rp45 ribu hingga Rp50 ribu. Pedagang bawang merah, Wahyu, menyatakan bahwa kenaikan harga yang tajam membuat banyak pembeli mengeluhkan kondisi ini. “Harga bawang merah paling melonjak dalam beberapa hari terakhir. Pembeli banyak mengeluhkan kenaikan harga sekarang,” ungkapnya.
Kenaikan harga bawang merah ini tidak berdiri sendiri. Fenomena ini juga diikuti oleh komoditas pertanian lain, seperti tomat dan kentang. Harga tomat, misalnya, melonjak menjadi Rp18 ribu per kilogram. Namun, di tengah kenaikan ini, harga cabai merah keriting justru mengalami penurunan, menjadi Rp45 ribu per kilogram, dan cabai rawit merah turun dari Rp100 ribu menjadi Rp80 ribu per kilogram. Meski ada penurunan harga cabai, minat beli masyarakat belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Faktor Penyebab Kenaikan Harga
Wahyu menduga dua faktor utama yang menyebabkan kenaikan harga ini adalah cuaca yang tidak menentu dan melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS. “Ada pengaruh cuaca dan kondisi rupiah terhadap harga pasar. Dampaknya, jumlah pembeli ikut menurun,” ujarnya. Ketidakstabilan cuaca berdampak signifikan terhadap hasil panen, yang pada gilirannya mempengaruhi pasokan pangan di pasaran.
Kelangkaan Minyakita
Selain itu, pedagang sembako di Tangsel juga mengeluhkan kelangkaan minyak goreng subsidi Minyakita. Setelah operasi pasar untuk membantu stabilisasi harga dihentikan, stok minyak goreng ini mulai menghilang. Pedagang melaporkan bahwa harga minyak nonsubsidi kini lebih murah dibandingkan harga Minyakita ketika stok tersedia, yang membuat para pelanggan semakin kesulitan.
Kondisi ini menunjukkan tantangan yang harus dihadapi oleh pemerintah dan produsen untuk menjamin ketersediaan pangan yang terjangkau bagi masyarakat. Tanpa langkah-langkah nyata, efek dari lonjakan harga ini berpotensi berlanjut dan semakin mempengaruhi daya beli masyarakat.
Dengan situasi yang semakin sulit, harapan akan pemulihan di sektor harga pangan di Tangsel masih tergantung pada stabilitas cuaca dan kondisi ekonomi global. Pemerintah diharapkan dapat merespons dengan cepat agar kebutuhan pokok masyarakat tidak tertekan lebih lanjut.
