Nasional

WNI Relawan Gaza Herubowo Beri PERINGATAN: Kisah Kekerasan Semasa Penahanan oleh Israel!

Jakarta, Maret.id — Relawan kemanusiaan Indonesia, Rahendro Herubowo, menceritakan pengalaman menyedihkan yang dialaminya selama ditahan oleh aparat Israel. Dia menuduh mereka telah melakukan kekerasan fisik dan mental selama periode penahanan. Herubowo adalah salah satu dari sembilan WNI yang ditangkap saat mengikuti misi Global Sumud Flotilla untuk memberikan bantuan ke Gaza.

Pengalaman Penahanan yang Menyakitkan

Herubowo mengungkapkan bahwa tekanan fisik dan mental sudah mulai dirasakan sejak mereka berada di kapal bantuan. “Setiap kali kami melakukan sesuatu, mereka melemparkan granat kejut yang sangat keras kepada kami,” ujar Herubowo saat konferensi pers di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Relawan lainnya pun dipaksa untuk menunduk saat dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain. Herubowo mengklaim bahwa setiap relawan yang berani mengangkat kepala langsung mendapatkan tindakan kekerasan dari pihak militer Israel. “Selama pemindahan kami harus selalu menunduk. Jika ada yang mengangkat kepala, kami akan ditendang dan dipukul,” tambahnya.

Metode Penyiksaan yang Brutal

Selama penahanan, Herubowo menjelaskan bahwa mereka beberapa kali dibawa ke ruangan khusus. Dia menyebut bahwa ruangan ini digunakan oleh aparat Israel untuk melakukan penyiksaan kepada para tahanan. “Saya pernah jatuh dan diinjak. Saya juga disetrum beberapa kali di bagian tubuh, kaki, dan punggung,” ungkapnya.

Pengalaman yang tragis ini dianggapnya sebagai bentuk tekanan fisik dan psikologis yang dialami oleh relawan internasional. Herubowo pun berpendapat bahwa tindakan tersebut sama sekali tidak mencerminkan prinsip-prinsip kemanusiaan, terutama terhadap aktivis yang membawa bantuan untuk Gaza.

Bebas Setelah Diplomasi yang Intensif

Sebelumnya, pada 19 Mei 2026, sembilan WNI yang terlibat dalam Global Sumud Flotilla ditangkap oleh militer Israel saat berusaha memberikan bantuan ke Gaza. Namun, setelah melalui serangkaian diplomasi dan negosiasi yang intensif oleh Pemerintah Indonesia dan dukungan dari komunitas internasional, ketiga relawan akhirnya dibebaskan.

Mereka dipulangkan melalui Istanbul, Turki. Kejadian ini telah menimbulkan perhatian luas, terutama terkait dengan isu hak asasi manusia dan perlakuan terhadap aktivis kemanusiaan di wilayah konflik. Pihak kementerian luar negeri Indonesia terus mengecam tindakan kekerasan yang dialami oleh WNI dan berkomitmen untuk mengedepankan diplomasi demi melindungi warganya yang berjuang untuk kemanusiaan.

Keberanian Rahendro Herubowo dan relawan lainnya dalam menghadapi tantangan ini menunjukkan komitmen tinggi mereka dalam memperjuangkan kemanusiaan. Masyarakat Indonesia diharapkan untuk lebih memahami situasi yang dihadapi oleh mereka yang berupaya memberikan bantuan di daerah konflik, serta mendukung upaya-upaya diplomasi untuk mengakhiri kekerasan yang terjadi di Gaza.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button