Nasional

CEGAH PENCEMARAN LINGKUNGAN! PENANGANAN LIMBAH KURBAN HARUS DITANGANI KHUSUS!

Jakarta, Maret.id — Pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Salundik, menekankan pentingnya penanganan limbah kurban secara khusus sesuai dengan jenis dan lokasi pengelolaannya. Hal ini dianggap krusial untuk mencegah pencemaran lingkungan dan risiko gangguan kesehatan masyarakat.

Kategori Limbah Kurban

Menurut Salundik, limbah kurban dapat dikategorikan menjadi dua jenis utama, yaitu limbah di area penjualan dan area penyembelihan hewan. Masing-masing kategori limbah ini memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga memerlukan metode penanganan yang berbeda pula untuk menghindari potensi masalah.

“Limbah di lokasi penjualan umumnya terdiri dari kotoran dan sisa pakan hijauan. Mengingat ternak dikumpulkan dalam jumlah besar sekitar 20 hari sebelum Iduladha, akumulasi limbah menjadi sangat masif,” jelas Salundik dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 26 Mei 2026.

Limbah di area penjualan berasal dari feses ternak dan sisa pakan hijauan selama periode penampungan hewan. Sebagai gambaran, sekelompok 50 ekor sapi dapat menghasilkan hingga 20 ton limbah selama masa penjualan berlangsung.

Pentingnya Penanganan yang Khusus

“Jenis limbah di area penyembelihan memerlukan penanganan khusus karena risiko kontaminasinya lebih tinggi,” tuturnya. Limbah ini meliputi darah, isi rumen, hingga saluran pencernaan hewan kurban, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan publik.

Salundik juga mendorong masyarakat untuk memanfaatkan limbah organik dari area penjualan dengan mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi, seperti kompos atau vermikompos. “Feses dan sisa pakan dapat diolah menjadi pupuk organik, memberikan solusi praktis dan nilai ekonomi,” ungkapnya.

Tantangan Pengelolaan Limbah di Perkotaan

Namun, ia mengakui bahwa pengelolaan limbah di area penyembelihan tetap menjadi tantangan, terutama di wilayah perkotaan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan lahan, jumlah ternak yang tidak menentu, dan lokasi penyembelihan yang tersebar.

Oleh karena itu, Salundik menekankan bahwa pengelolaan limbah kurban memerlukan pendekatan yang lebih terencana dan terkoordinasi. “Pengelolaan yang tepat dapat mengurangi dampak lingkungan sekaligus mendukung praktek ekonomi sirkular yang berkelanjutan,” tambahnya.

Dengan pemilihan metode yang tepat, proaktif dalam menangani masalah limbah, masyarakat tidak hanya dapat membantu menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan, tetapi juga berperan aktif dalam praktik ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button