Daging Kambing BUKAN Penyebab Hipertensi dan Kolesterol!

Jakarta, Maret.id — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa daging kambing dan sapi bukan merupakan penyebab utama kolesterol tinggi dan hipertensi. Dalam penjelasannya, ia menjelaskan bahwa faktor utama yang berkontribusi terhadap masalah kesehatan tersebut berasal dari bahan olahan daging lainnya.
Klarifikasi dari Menteri Kesehatan
Pada kesempatan yang sama, Menteri Budi menyoroti bahwa garam, gula, dan kebiasaan memasak, seperti penggunaan santan kental dan jeroan, adalah penyebab sebenarnya. Ia menyatakan bahwa jeroan seperti hati, paru, dan usus memiliki kadar kolesterol yang jauh lebih tinggi dibandingkan daging, dengan jumlah tiga hingga lima kali lipat.
Kandungan lemak jenuh daging kambing juga jauh lebih rendah dibandingkan sapi. Budi menjelaskan, “Kandungan lemak jenuh kambing hanya 0.8 gram, sementara sapi mencapai 3 gram. Jelas bahwa lemak jenuh sapi tiga kali lipat lebih tinggi dari kambing.” Ini menggambarkan bahwa anggapan negatif terhadap daging kambing tidak beralasan.
Pentingnya Asupan Protein pada Iduladha
Menteri Budi mendorong masyarakat untuk tidak takut mengonsumsi daging kambing pada saat perayaan Iduladha. Ia menekankan bahwa Iduladha merupakan peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan asupan protein dengan harga terjangkau. “Daging kambing dan sapi mengandung asam amino penting yang tidak bisa diproduksi tubuh,” tambahnya.
Asam amino, terutama leucine, berperan krusial dalam pembentukan otot, dan ini sangat penting bagi lansia, ibu hamil, serta remaja putri. Ia juga menghimbau agar daging kurban yang diperoleh tidak dimasak sekaligus, melainkan diolah dan disimpan untuk bisa dinikmati dalam jangka waktu yang lebih lama.
Menjaga Konsumsi yang Sehat
Pemantauan terhadap porsi dan cara memasak sangat penting agar tetap sehat. “Jika setelah Iduladha banyak yang masuk rumah sakit karena hipertensi atau kolesterol, kita harus pastikan bahwa penyebabnya bukan daging kambing, tetapi cara memasak dan porsi yang tidak terkontrol,” ungkap Budi.
Ia menggambarkan momen Iduladha sebagai kesempatan emas untuk “upgrade” asupan protein. Daging kurban dapat dianggap setara dengan suplemen nutrisi mahal jika dimanfaatkan dengan bijak. “Ini adalah momentum berharga untuk meningkatkan asupan protein yang hadir setahun sekali melalui daging hewan kurban,” tutupnya.
Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat menikmati daging kurban dengan bijak, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, sehingga dapat mendukung kesehatan secara menyeluruh.



