KEMKOMDIGI PERKUAT PERLINDUNGAN ANAK: IMPLEMENTASI PP TUNAS HARUS CEPAT DILAKUKAN!

Jakarta, Maret.id — Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) Indonesia telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 (PP Tunas) dalam rangka memperkuat perlindungan anak di ruang digital. Ini merupakan langkah strategis untuk menciptakan lingkungan digital yang aman bagi anak-anak, terutama di tengah meningkatnya paparan internet yang dialami oleh anak-anak di Indonesia.
Pentingnya Regulasi untuk Perlindungan Anak
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemkomdigi, Boni Pudjianto, menyatakan bahwa perhatian terhadap perlindungan anak sangat diperlukan, mengingat paparan internet yang dialami anak-anak semakin dini. “Paparan internet kepada anak-anak saat ini terjadi semakin dini, padahal mereka belum siap secara emosional dan kognitif,” ungkapnya dalam dialog “Sapa Lansia: Tetap Terhubung, Bahagia dan Anti Gaptek,” yang berlangsung di Auditorium Abdulrahman Saleh RRI, Jakarta Pusat.
Dalam dialog tersebut, Boni menekankan bahwa PP Tunas hadir sebagai respons terhadap data yang menunjukkan bahwa 89 persen anak Indonesia mengakses internet lebih dari lima jam setiap harinya. Ia menilai perlu adanya pengawasan dari keluarga untuk membimbing anak-anak saat beraktivitas di dunia maya.
Statistik Mengkhawatirkan Mengenai Keamanan Digital Anak
Sebuah survei menunjukkan bahwa sekitar 42 persen anak mengaku merasa tidak nyaman saat beraktivitas di ruang digital. Ini menunjukkan pentingnya tindakan preventif dan perlindungan yang lebih kuat di dunia maya. Keberadaan PP Tunas diharapkan dapat mengurangi risiko seperti perundungan digital, paparan konten yang tidak sesuai dengan usia anak, dan eksploitasi dalam ruang siber.
Boni Pudjianto juga menegaskan bahwa anak-anak adalah kelompok yang sangat rentan terhadap berbagai ancaman di internet. Oleh karena itu, pengawasan dari orang tua dan anggota keluarga lainnya menjadi sangat penting dalam menjaga anak-anak tetap aman saat online.
Peran Lansia dalam Memberdayakan Komunitas
Di kesempatan yang sama, Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial, Effendy Choirie, turut memberikan perspektif mengenai pentingnya membaca bagi lansia. Ia mengajak para lansia untuk membiasakan diri membaca, termasuk kitab suci, guna memperluas wawasan dan menjaga kesehatan mental.
“Ilmu dan pengetahuan yang diperoleh sebaiknya dibagikan kepada orang lain secara berkelanjutan. Dengan demikian, lansia dapat menginspirasi masyarakat melalui pengalaman hidupnya,” tambah Choirie. Bacaan dianggap sebagai sarana untuk memberikan ketenangan batin dan petunjuk hidup yang berharga.
Keseluruhan inisiatif ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengatasi tantangan di era digital dan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Melalui PP Tunas dan dukungan dari masyarakat, diharapkan anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan digital yang lebih aman dan positif.



