Nasional

MENBUD FADLI LUNCURKAN BUKU ANTOLOGI PUISI MIMPI

Jakarta, Maret.id — Menteri Kebudayaan Indonesia, Fadli Zon, secara resmi meluncurkan antologi puisi berjudul ‘Mimpi-Mimpi yang Kupelihara’. Buku ini merupakan kumpulan puisi yang ditulis sejak tahun 1983 hingga 1991 dan merefleksikan perjalanan kreatif Fadli selama masa kanak-kanak, remaja, hingga awal masa perkuliahan.

Refleksi Pengalaman Pribadi dan Kemanusiaan

Fadli Zon menyatakan bahwa antologi ini mencakup beragam tema yang menggambarkan pengalaman pribadi dan kenangan masa kecilnya. Dalam karyanya, ia mengungkapkan kegelisahan intelektual, cinta pada alam, serta renungan sosial yang mulai tumbuh saat ia membentuk karakter dirinya.

“Buku ini tidak sekadar kumpulan puisi, tetapi juga penanda penting dalam perjalanan kepenyairan saya,” ungkapnya dalam keterangan pers yang diterima pada Rabu, 3 Juni 2026. Ia menjelaskan bahwa karya sastra memainkan peran krusial dalam membangun peradaban dan memperkuat identitas budaya bangsa.

Pentingnya Puisi dalam Sastra

Fadli menjelaskan bahwa puisi adalah media sastra yang penting, karena memiliki kemampuan untuk menangkap aspek-aspek kehidupan yang sering terlupakan. Melalui puisi, seseorang dapat merekam pengalaman batin, menyampaikan harapan, dan kritik sosial dengan cara yang lebih mendalam dan reflektif.

“Puisi memungkinkan kita melihat hal-hal yang tidak terungkap dalam bahasa sehari-hari. Ini adalah cara untuk mendokumentasikan perjalanan kolektif dan meningkatkan wawasan kemanusiaan,” tambahnya.

Mendekatkan Generasi Muda pada Sastra

Melalui penerbitan antologi ini, Fadli berharap generasi muda semakin terinspirasi untuk mendalami dunia sastra. Ia mendorong mereka untuk menjadikan menulis sebagai sarana ekspresi dan refleksi diri yang bermanfaat.

Buku ini juga diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul ‘Dreams I Keep: A Collection of Poems, 1983–1991’. Fadli Zon Library dan Horison berkolaborasi untuk menghadirkan dokumentasi penting perjalanan sastra Fadli Zon.

Peluncuran buku ini sejalan dengan perayaan ulang tahun ke-55 Fadli Zon. Ia menekankan, “Melalui sastra, kita merawat bahasa, merekam perjalanan zaman, dan memperkaya perspektif kebangsaan. Penguatan ekosistem sastra penting untuk kemajuan kebudayaan Indonesia.”

Penyair Seno Gumira Ajidarma menambahkan bahwa menulis puisi adalah bentuk ekspresi diri yang penting. Ia mengajak para penulis muda untuk merasakan dan menangkap momen kehidupan dengan penuh penghayatan.

“Menulis adalah kebutuhan batin. Kita harus belajar untuk menyelesaikan momen-momen tersebut melalui tulisan,” tutupnya. Peluncuran buku ini tidak hanya menjadi ajang pengungkapan karya, tetapi juga dorongan bagi masyarakat untuk lebih menghargai dan terlibat dalam dunia sastra.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button