DPR TEKAN TRANSFORMASI PENDIDIKAN PESANTREN HADAPI TANTANGAN TEKNOLOGI GLOBAL!

Jakarta, Maret.id — Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Cucun Ahmad Syamsurijal baru-baru ini menekankan pentingnya transformasi pendidikan di pesantren untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Dalam sebuah talkshow panel yang diadakan di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada Sabtu, 6 Juni 2026, Cucun menjelaskan bahwa pesantren perlu meningkatkan kualitas pendidikan tanpa kehilangan identitas keislamannya.
Pentingnya Transformasi Pendidikan Pesantren
Cucun menyebutkan bahwa tujuan transformasi ini adalah untuk mencetak santri yang kompetitif di tingkat internasional. Dalam diskusinya, ia menguraikan dua agenda strategis yang harus diutamakan untuk masa depan pesantren. Agenda tersebut melibatkan pengawalan implementasi Undang-Undang Pesantren dan peningkatan kapasitas santri agar dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Dampak positif dari Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren perlu dirasakan oleh lembaga-lembaga pesantren. Maka dari itu, kami meminta agar mekanisme regulasi yang diturunkan tidak rumit, terutama dalam hal rekognisi kelulusan dan akses terhadap anggaran,” ujar Cucun dalam keterangan tertulisnya.
Integrasi Teknologi dalam Pendidikan
Cucun juga memaparkan perlunya pesantren untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Ia meyakini bahwa pesantren memiliki potensi besar untuk mengintegrasikan standar pendidikan internasional dengan karakter khas yang dimiliki. Misalnya, kurikulum internasional seperti Cambridge Curriculum dan International Baccalaureate bisa menjadi rujukan dalam pengembangan pendidikan pesantren.
Namun, Cucun menekankan pentingnya penyesuaian kurikulum tersebut agar tetap sesuai dengan nilai dan budaya yang dianut di pesantren. “Pesantren bisa mengadopsi Cambridge maupun IB dengan pendekatan khas pesantren. Kesadaran akan pentingnya adaptasi terhadap teknologi ini harus menjadi perhatian bersama,” kata Cucun.
Konstribusi Pesantren dalam Era Kecerdasan Buatan
Lebih lanjut, Cucun menyoroti bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) juga membuka peluang bagi pesantren untuk memberikan kontribusi. Ia percaya bahwa santri yang memiliki pemahaman agama dapat berperan penting dalam menghadirkan perspektif etika dan moral dalam pemanfaatan teknologi.
Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, kehadiran santri yang berkompeten dalam ilmu agama dan teknologi sangat penting untuk memastikan bahwa inovasi teknologi tidak lepas dari nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi institusi pendidikan, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam mengedukasi etika dalam penggunaan teknologi.
Melalui langkah-langkah ini, Cucun berharap pesantren dapat lebih siap menghadapi tantangan zaman dan berkontribusi positif dalam masyarakat, baik di tingkat lokal maupun global. Inisiatif ini diharapkan dapat membawa perubahan signifikan bagi pendidikan di lingkungan pesantren di Indonesia.



