DUKUNG PENGUATAN RUPIAH dan IHSG! SBY: Semoga Ini Awal yang Baik!

Jakarta, Maret.id — Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memberikan tanggapan positif mengenai penguatan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir. Menurutnya, perkembangan ini menjadi sinyal baik bagi perekonomian nasional, terutama setelah mengalami tekanan sebelumnya.
Pencapaian yang Positif bagi Perekonomian
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui akun media sosial X miliknya, SBY mengapresiasi usaha yang dilakukan oleh negara dan pemerintah. Ia menekankan bahwa penguatan rupiah dan IHSG merupakan awal yang potensial bagi pemulihan ekonomi Indonesia.
“Selamat dan terima kasih kepada negara dan pemerintah. Semoga ini menjadi pertanda baik ~ ‘a good beginning’,” ungkap SBY pada Rabu, 10 Juni 2026. Hal ini menunjukkan harapannya akan momentum positif yang dapat dimanfaatkan bagi kemajuan ekonomi.
Pentingnya Kebijakan yang Responsif
SBY juga menyatakan keyakinannya bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto masih memiliki cukup sumber daya politik dan ekonomi untuk menghadapi tantangan yang ada. Ia melihat ada beragam opsi kebijakan yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Menurut SBY, langkah-langkah yang ditempuh oleh otoritas moneter dan fiskal telah berhasil menghentikan tren pelemahan rupiah dan IHSG. “Kebijakan yang diterapkan oleh Bank Indonesia, yang bersinergi dengan pemerintah, menjadi faktor positif dalam menghentikan penurunan nilai tukar rupiah dan IHSG,” tegasnya.
Komunikasi Efektif dan Dukungan Publik
Di samping itu, SBY mengingatkan bahwa tanpa tindakan cepat dari pemerintah dan otoritas terkait, kemungkinan pelemahan pasar keuangan dapat berlanjut lebih dalam. Ia menggarisbawahi bahwa faktor ekonomi riil dan persepsi pasar terhadap situasi fiskal serta utang pemerintah memengaruhi kondisi ini.
“Jika tidak, pelemahan saham dan mata uang kita bisa sulit dihentikan. Ini adalah kombinasi antara faktor ‘real economy’ yang sangat dipengaruhi oleh kondisi fiskal dan APBN, termasuk beban utang yang ada,” ujarnya. SBY juga menyoroti pentingnya persepsi pasar yang positif untuk mendukung pemulihan ekonomi.
SBY juga mendorong pemerintah untuk terus melakukan upaya stabilisasi ekonomi, termasuk pengelolaan APBN yang sehat dan kontrol utang pemerintah. Ia menekankan pentingnya menjaga daya beli masyarakat dan memperkuat komunikasi pemerintah agar kebijakan-kebijakan yang diambil dapat dipahami oleh publik dan pelaku pasar.
“Upayakan komunikasi yang lebih efektif sehingga langkah-langkah pemerintah dapat dimengerti. Penghentian spekulasi dan ketidakpastian merupakan hal yang penting,” ungkapnya.
Lebih lanjut, mantan presiden ini meminta perhatian pemerintah kepada masyarakat yang terdampak oleh kondisi ekonomi, termasuk selain faktor-faktor seperti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Ia mengakui bahwa pengalaman dalam menghadapi tekanan ekonomi di masa lalu membuatnya memahami betapa pentingnya dukungan publik dalam menghadapi krisis.
“Perlu dukungan publik yang lebih kuat, ingat, ‘dalam hal yang penting, bersatu’, ‘dalam hal yang penting, dialog’. Penting untuk mewadahi keragaman pandangan yang konstruktif dan kebijakan yang tepat agar dapat menghasilkan aksi-aksi nyata,” tutup SBY.



