Prabowo Tegaskan, Tanpa Nasionalisme Tidak Ada Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia!

Jakarta, Maret.id — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan pentingnya nasionalisme sebagai pondasi dasar dalam membangun kekuatan ekonomi nasional dalam sambutannya pada Musyawarah Nasional (Munas) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) XVIII. Acara tersebut berlangsung di Novotel, Bandar Lampung, pada Rabu, 10 Juni 2026.
Nasionalisme sebagai Katalis Pembangunan Ekonomi
Prabowo menyatakan bahwa HIPMI memiliki peran strategis yang berasal dari semangat nasionalisme. Menurutnya, semangat ini merupakan dasar yang esensial bagi kemajuan suatu bangsa. “Lahirnya HIPMI dengan wawasan nasionalisme adalah sangat penting. Tidak ada kemajuan suatu bangsa tanpa nasionalisme,” tegas Prabowo.
Pernyataan Prabowo ini mencerminkan pemahaman yang lebih luas tentang hubungan antara nasionalisme dan pertumbuhan ekonomi. Ia menambahkan bahwa keyakinan ini juga diakui oleh berbagai pemikir ekonomi di seluruh dunia. “Bahkan embah-embahnya kapitalisme, guru-guru kapitalisme sekalipun, mengatakan pertumbuhan ekonomi hanya bisa datang dengan nasionalisme,” tambahnya.
Referensi dari Pemikir Ekonomi
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo mengutip pandangan sosiolog Liah Greenfeld dari bukunya yang berjudul *The Spirit of Capitalism: Nationalism and Economic Growth* (2001). Buku ini menggambarkan dengan rinci karakteristik pertumbuhan ekonomi modern yang tidak bisa berdiri sendiri. “Karakteristik dari ekonomi modern, is not self-sustained. Pertumbuhan distimulasi dan dipertahankan oleh nasionalisme,” jelasnya.
Prabowo menekankan bahwa banyak negara yang meraih kemajuan ekonomi memiliki ikatan yang kuat dengan nasionalisme. “Jadi saudara-saudara, Jepang maju, Amerika maju, Eropa Barat maju, Tiongkok bangkit sekarang karena nasionalisme,” ujarnya.
Refleksi atas Penerapan Nasionalisme di Indonesia
Dalam akhir pidatonya, Prabowo mengajak seluruh peserta Munas HIPMI untuk melakukan refleksi mengenai implementasi nasionalisme dalam sistem ekonomi Indonesia. Ia meminta mereka untuk bertanya pada diri sendiri, “Apa benar sistem ekonomi kita sudah berdasarkan nasionalisme? Marilah kita lihat dengan mata dan hati yang terbuka,” katanya.
Pernyataan ini menunjukkan harapan Prabowo agar semangat nasionalisme dapat menjadi rujukan dalam merancang kebijakan ekonomi yang lebih berorientasi pada kepentingan bangsa. Dengan demikian, diharapkan akan tercipta sinergi yang positif antara para pengusaha muda dan pemerintah dalam membangun perekonomian Indonesia yang berkelanjutan.
Selama acara tersebut, kehadiran Presiden Prabowo di Munas HIPMI XVIII menjadi sorotan media, sebagai simbol komitmen pemerintah dalam mendukung pengembangan ekonomi melalui generasi muda. Ini menjadi momen penting untuk memperkuat sinergi antara sektor publik dan sektor swasta demi memajukan bangsa.
Dengan adanya gerakan seperti HIPMI, diharapkan kontribusi pengusaha muda akan semakin terasa, terutama dalam konteks menciptakan lapangan kerja dan menumbuhkan inovasi di tanah air.





