Nasional

Kelas Menengah Tertekan, Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250!

Jakarta, Maret.id —
Kenaikan harga Pertamax resmi diumumkan, menyentuh angka Rp16.250 per liter. Kebijakan ini telah memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat, terutama kelas menengah yang paling merasakan dampak langsung dari perubahan harga bahan bakar tersebut.

Kekhawatiran Masyarakat Terhadap Kenaikan Harga

Keputusan pemerintah untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50 persen, bersamaan dengan meningkatnya harga Pertamax, menerima sejumlah kritik. Pengamat ekonomi, Achmad Nur Hidayat, Dosen dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, menilai bahwa kebijakan ini justru membebani masyarakat kelas menengah.

“Bagi kelas menengah, ini artinya cicilan rumah yang semakin mahal, cicilan kendaraan yang semakin berat, serta biaya transportasi yang meroket. Hal ini mengakibatkan tabungan mereka cepat terkuras,” ungkap Achmad saat diwawancarai.

Dampak Terhadap Jumlah Kelas Menengah

Achmad juga menekankan bahwa kenaikan harga bahan bakar ini dapat berdampak pada penurunan kelas menengah di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kelas menengah menurun drastis dari 57,33 juta orang pada tahun 2019 menjadi 47,85 juta orang pada tahun 2024. Itu berarti hampir 9,5 juta orang keluar dari kategori ini dalam kurun waktu lima tahun.

“Kenaikan suku bunga dan harga Pertamax membuat ruang gerak kelas menengah semakin sempit. Mereka bukan kaya raya dengan cadangan aset yang besar, tetapi juga tidak termasuk kategori miskin yang mendapatkan perlindungan sosial,” kata Achmad.

Paradoks yang Dihadapi Kelas Menengah

Kelas menengah di Indonesia menghadapi situasi yang paradoksal. Mereka terlalu kaya untuk mendapatkan bantuan sosial, tetapi juga terlalu rentan untuk menanggung semua beban ekonomi sendirian. Achmad menegaskan bahwa kelas menengah terlihat stabil dari luar, namun sesungguhnya berada dalam situasi yang rapuh.

Untuk mengatasi tekanan ini, Achmad menekankan pentingnya adanya skema perlindungan sementara bagi kelompok rentan dan kelas menengah bawah. “Mereka yang terkena dampak dari kenaikan biaya transportasi, pendidikan, dan cicilan perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah agar tidak terjebak dalam kondisi yang lebih sulit,” katanya.

Dengan kondisi sosial dan ekonomi yang semakin sulit, suara-suara dari masyarakat dan berbagai kalangan akademis menjadi penting agar pemerintah mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih bijaksana dalam mengambil keputusan terkait kebijakan harga barang penting seperti BBM. Kenaikan harga ini tidak hanya sekedar angka, tetapi juga berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat yang harus diperhatikan dengan serius.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button