SESKAB TEDDY: PERTAMAX INDONESIA LEBIH MURAH DIBANDINGKAN NEGARA ASEAN!

Jakarta, Maret.id — Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia, khususnya Pertamax, masih lebih murah dibandingkan dengan harga di negara-negara ASEAN lainnya. Dalam penjelasannya, harga Pertamax (RON 92) saat ini berada di angka Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 (RON 95) dijual seharga Rp17.000 per liter.
Harga BBM Indonesia vs. Negara ASEAN
Menurut Teddy, meskipun terdapat kenaikan harga, BBM di Indonesia tetap lebih kompetitif. Contohnya, harga BBM di Filipina mencapai Rp22.158 per liter, sementara di Laos dan Thailand masing-masing terjual dengan harga Rp31.945 dan Rp28.910 per liter. Negara-negara lain seperti Myanmar dan Singapura mencatat harga yang lebih tinggi, dengan masing-masing harga Rp25.085 dan Rp42.971 per liter.
Teddy menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi, seperti Pertamax, mengikuti perkembangan harga minyak dunia. Dia juga menambahkan bahwa meskipun harga minyak mentah global mengalami lonjakan sejak Maret 2026, pemerintah berusaha menahan kenaikan harga untuk menjaga daya beli masyarakat.
Penyebab Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi
Seskab Teddy merinci penyebab kenaikan harga minyak dunia yang drastis, salah satunya dipicu oleh konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Amerika Serikat serta sekutunya, Israel. Dalam situasi tersebut, dia menegaskan pentingnya pengelolaan harga BBM untuk melindungi konsumen dari dampak besar kebangkitan harga energi global.
“Pertamax adalah BBM nonsubsidi, artinya harganya berfluktuasi sesuai dengan harga minyak dunia. Meski harga minyak dunia telah meningkat tajam, pemerintah telah berupaya menahan kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir,” ujar Teddy.
Ketersediaan dan Ketersesuaian Harga BBM Subsidi
Sementara itu, harga BBM subsidi seperti Pertalite dan solar tetap dipertahankan sesuai dengan ketentuan pemerintah. Pertalite dijual di harga Rp10.000 per liter, sedangkan solar tetap stabil di angka Rp6.800 per liter. Ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah harga energi yang tidak menentu.
Dalam pernyataan terpisah, Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa perubahan harga BBM nonsubsidi dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global serta harga minyak yang berlaku di pasar internasional. Ia menegaskan bahwa Pertamina berkomitmen untuk menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat.
“Penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan dengan cermat, dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat,” tambah Simon.
Dengan berbagai langkah yang diambil pemerintah, diharapkan masyarakat dapat tetap memperoleh energi dengan harga yang terjangkau, meskipun ada tantangan di pasar internasional yang mempengaruhi harga minyak.



