FISIPOL UGM Gelar Unjuk Rasa Menyambut Malam 1 Suro, HMI Semarang Pecah Terjadi Kerusuhan!

Jakarta, Maret.id — Gelombang demonstrasi yang diprakarsai oleh mahasiswa di berbagai daerah masih berlangsung, menuntut Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk mengambil tanggung jawab atas kondisi perekonomian Indonesia yang terpuruk. Aksi ini dimulai di Jakarta oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia dan kini menyebar ke kampus-kampus lainnya.
Tanggal Penting: 15 Juni 2026
Hari ini, 15 Juni 2026, menjadi hari yang penting bagi mahasiswa, terutama bagi FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM). Melalui media sosial, mereka menginformasikan bahwa tanggal ini dipilih untuk menyambut malam 1 Suro yang jatuh pada 16 Juni 2026. Dalam seruan aksinya, FISIPOL UGM menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk bersatu dan menolak keadaan yang dianggap merugikan rakyat.
“Situasi saat ini mencerminkan negara yang gagal mendengar suara rakyat. Nilai rupiah melemah, harga kebutuhan pokok serta bahan bakar minyak (BBM) meningkat tajam. Kami mendesak agar anggaran tidak lagi dihamburkan untuk program yang tidak berpihak kepada rakyat,” ungkap pernyataan dari panitia aksi.
Desakan dari Mahasiswa
FISIPOL UGM menegaskan bahwa tanpa keberanian untuk berubah, tidak akan ada perbaikan yang terjadi. “Tidak akan ada perubahan tanpa suara yang lantang dari masyarakat,” lanjut mereka. Seruan ini menjadi bagian dari aksi kolektif yang menyuarakan berbagai isu yang dianggap penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia saat ini.
Aksi ini direncanakan berlangsung mulai pukul 15.30 WIB bertempat di Taman Pintar FISIPOL UGM. Diundang seluruh lapisan masyarakat yang merasakan keresahan yang sama untuk bergabung dalam demonstrasi tersebut.
Perhatian Terhadap Perekonomian
Masyarakat dan mahasiswa yang berpartisipasi dalam demonstrasi ini menginginkan perhatian yang lebih terhadap situasi ekonomi yang sedang dihadapi di Tanah Air. Merekalah yang merasakan dampak langsung dari keputusan-keputusan pemerintah yang dianggap mengabaikan kepentingan umum. Dalam seruan ini, mereka menuntut adanya pengembangan kebijakan yang lebih berpihak kepada rakyat untuk memperbaiki kondisi kehidupan sehari-hari.
Aksi mahasiswa ini juga mencerminkan keresahan yang melanda di berbagai daerah, bukan hanya di Jakarta. Hal ini menjadi penanda bahwa suara rakyat tidak boleh diabaikan, dan perjuangan untuk keadilan harus terus ada.
Dengan seruan ini, mahasiswa berharap supaya suara mereka didengar dan diperhatikan oleh pemimpin bangsa. Semoga aksi ini dapat menjadi titik awal untuk dialog konstruktif antara pemerintah dan masyarakat demi tercapainya kesejahteraan bersama.





