Presiden Jerman Terpesona dengan Harmoni Istiqlal dan Katedral!

Jakarta, Maret.id — Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier, dan istrinya melakukan kunjungan ke Indonesia pada Senin, 15 Juni 2026. Dalam agenda tersebut, mereka mengunjungi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral usai menghadiri acara kenegaraan di Istana Kepresidenan.
Kunjungan yang Mengesankan
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menjelaskan bahwa rombongan langsung menuju lantai dua Masjid Istiqlal dan melanjutkan perjalanan melalui Terowongan Silaturahim yang menghubungkan kedua tempat ibadah. Di Gereja Katedral, mereka disambut oleh Kardinal Ignatius Suharyo yang memberikan penjelasan mendalam mengenai sejarah serta makna hubungan antara kedua bangunan suci tersebut.
Nasaruddin menambahkan, “Kami mendengar suara bedug dari arah Istiqlal. Saat mendekati Katedral, terdengar lonceng yang berpadu harmonis.” Kunjungan ini mengesankan bagi para tamu, yang menyaksikan persahabatan antarumat beragama yang terwujud secara nyata di lokasi tersebut.
Simbol Toleransi dan Persahabatan
Momen berharga ini ditandai dengan keindahan ornamen di sepanjang Terowongan Silaturahim yang menarik perhatian rombongan. Kehadiran simbol-simbol persaudaraan dinilai memperkuat pesan toleransi antaragama. “Mereka sangat terharu melihat dua rumah ibadah berdiri bersahabat. Presiden dan istrinya mengaku sangat puas berkunjung ke sini,” ujar Nasaruddin.
Kardinal Ignatius Suharyo menjelaskan bahwa kedekatan antara Istiqlal dan Katedral memiliki makna simbolik yang dalam. Konsep harmonisasi antaragama di kedua tempat ibadah ini sudah ada sejak masa Presiden Soekarno. “Presiden Soekarno memilih lokasi Istiqlal untuk menghapus simbol kolonialisme. Nama Istiqlal itu sendiri berarti kemerdekaan dan kebebasan,” ungkap Suharyo.
Meningkatkan Citra Indonesia di Mata Internasional
Lebih lanjut, Kardinal Suharyo menyatakan bahwa kedua bangunan harus dijadikan contoh bagaimana hidup berdampingan dalam keberagaman itu bisa terwujud. Relasi antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang terpelihara hingga kini menunjukkan bahwa persatuan bangsa Indonesia terus dikukuhkan melalui kebersamaan ini.
Kunjungan Frank-Walter Steinmeier diharapkan dapat memperkuat citra Indonesia sebagai bangsa yang toleran. Keharmonisan antara Istiqlal dan Katedral menjadi simbol nyata bagi dunia luar tentang bagaimana beragam budaya dan agama bisa saling menghormati dan hidup berdampingan dengan harmonis.
Secara keseluruhan, kunjungan ini tidak hanya meneguhkan relasi diplomatik antara kedua negara, tetapi juga menunjukkan betapa Indonesia tetap komitmen dalam menjaga kerukunan antarumat beragama. Ini menjadi pelajaran dan contoh bagi negara lain untuk menumbuhkan rasa saling menghargai dalam masyarakat yang beragam.



