Kementan Harus Perkuat Mitigasi Kemarau untuk Selamatkan Ketahanan Pangan Nasional!

Jakarta, Maret.id — Kementerian Pertanian (Kementan) Indonesia semakin memperkuat langkah mitigasi untuk menghadapi dampak musim kemarau yang ekstrem guna menjaga ketahanan pangan nasional. Perubahan iklim yang terjadi saat ini menjadi ancaman utama terhadap produksi pertanian, sehingga perlu ada persiapan yang matang.
Pentingnya Irigasi dalam Pertanian
Penyuluh Pertanian Ahli Utama di Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan) Kementan, Prof. Dedi Nursyamsi, mengemukakan bahwa sektor pertanian sangat bergantung pada kondisi iklim. Dalam konteks menghadapi fenomena El Niño yang intens, Dedi mengingatkan pentingnya kesiapan untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang dapat mengganggu produksi pertanian.
Irigasi dinilai sebagai aspek paling krusial dalam menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau. Dengan berkurangnya curah hujan, pasokan air untuk pertanian pun menurun, yang berpotensi meningkatkan risiko penurunan produksi. “Langkah berikutnya setelah identifikasi daerah rentan adalah memperkuat irigasi tambahan melalui berbagai sumber air,” ujarnya.
Kolaborasi dalam Pengelolaan Sumber Daya Air
Prof. Dedi menekankan perlunya kerjasama antara pemerintah daerah, penyuluh, dan petani untuk mengoptimalkan penggunaan air. Ia memperingatkan bahwa kekeringan yang terjadi di wilayah perakaran tanaman dapat mengakibatkan kerugian besar bagi pertumbuhan tanaman. “Kondisi kelembapan area sekitar perakaran harus tetap terjaga,” pungkasnya.
Teknik konservasi air juga dapat diterapkan melalui penggunaan bahan organik seperti kompos dan biochar yang dihasilkan dari biomassa sisa tanaman. Teknik ini membantu mempertahankan kelembapan tanah sehingga tanaman dapat menyerap unsur hara secara optimal.
Varietas Tahan Kekeringan untuk Memastikan Produksi Pangan
Dedi menggarisbawahi pentingnya penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan, seperti Inpago dan hibrida padi gogo. Menurutnya, dengan langkah mitigasi yang konsisten dari semua pihak, produksi pangan nasional dapat tetap terjaga meski dalam kondisi cuaca yang tidak mendukung.
Laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa musim kemarau mulai meluas di Indonesia sejak pertengahan Juni 2026. Pada saat yang sama, beberapa daerah masih memiliki kemungkinan mengalami hujan dengan intensitas tinggi akibat dinamika atmosfer.
BMKG juga melaporkan bahwa karakteristik musim kemarau di Indonesia semakin jelas, terutama di wilayah selatan. Situasi ini tercermin dari meningkatnya jumlah hari tanpa hujan di sebagian besar Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, yang telah mengalami periode kering yang cukup lama.
Dengan pendekatan yang tepat dan kolaboratif, Kementan berkomitmen untuk memastikan bahwa ketahanan pangan nasional tidak terganggu, meskipun tantangan akibat perubahan iklim terus meningkat. Ini merupakan langkah penting untuk menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat Indonesia ke depannya.



