Nasional

KLH Dorong Water Sharing Segera Cegah Karhutla di Riau!

Jakarta, Maret.id — Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia mendorong inovasi dalam mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau. Pendekatan yang diambil kali ini lebih holistik, dengan tetap menjaga kelembapan gambut di area konsesi perusahaan sembari menekankan pentingnya sistem berbagi air antara korporasi dan masyarakat.

Menteri Lingkungan Hidup Tinjau Pengelolaan Tata Air

Menteri Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat, melakukan kunjungan ke lokasi operasional PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Kabupaten Pelalawan, Riau. Dalam peninjauan tersebut, Jumhur mengamati langsung sistem pengelolaan tata air gambut yang diterapkan di kawasan perusahaan tersebut.

“Kita melihat mitigasi bencana kebakaran lahan melalui kolaborasi antara korporasi dengan masyarakat. Water sharing perlu dilakukan untuk memastikan gambut ini terairi tidak hanya pada kawasan konsesi, tetapi juga pada kawasan masyarakat,” ujarnya pada Sabtu, 20 Juni 2026.

Pentingnya Pengelolaan Berbasis Data

Pendekatan berbagi air ini sangat penting mengingat sebagian besar kawasan gambut saling terhubung secara hidrologis. Jika lahan masyarakat mengalami kekeringan, risiko munculnya titik api tetap tinggi meskipun perusahaan menjaga area konsesinya tetap lembap.

Dalam praktiknya, strategi pengelolaan tata air melibatkan pembagian kawasan berdasarkan keseragaman elevasi lahan. Infrastruktur seperti sekat kanal, pintu air, serta pemantauan tinggi muka air terus diperkuat. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mempertahankan kondisi gambut tetap basah, terutama sepanjang musim kemarau.

Dukungan Korporasi dalam Pencegahan Karhutla

Selama kunjungannya, Jumhur juga meninjau menara pemantauan gas rumah kaca (GRK) yang digunakan untuk mengukur emisi karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄) secara real-time. Data yang diperoleh menjadi landasan dalam perumusan kebijakan pengelolaan gambut nasional.

Presiden Direktur PT RAPP, Sihol Aritonang, menyatakan komitmennya untuk mendukung agenda pemerintah dalam pencegahan karhutla. “RAPP berkomitmen untuk terus mengambil bagian dalam mendukung agenda lingkungan nasional. Kami juga mendukung pengembangan riset dan ilmu pengetahuan Indonesia di bidang pengelolaan lahan gambut tropis,” tegasnya.

Dalam rangka meningkatkan efektivitas mitigasi, perusahaan tersebut juga melakukan pengukuran emisi sebagai dasar bagi kebijakan dan praktik pengelolaan berbasis sains. Dalam kesempatan yang sama, Jumhur meninjau proyek transisi energi bersih, yaitu instalasi panel surya berkapasitas total 50 megawatt (MW) yang dibangun di atas area bekas tempat pembuangan akhir (TPA) yang telah ditutup.

Pemerintah berharap model kolaborasi yang diterapkan di Riau ini dapat direplikasi di berbagai daerah lain. Dengan demikian, pencegahan karhutla diharapkan tidak lagi bersifat reaktif, tetapi dapat dilakukan secara proaktif melalui pengelolaan ekosistem yang terpadu. Ini adalah langkah strategis untuk menangani tantangan yang ditimbulkan oleh musim kemarau yang semakin meningkat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button